Pojok AksaraSastra

Air Mata Surga

Derap langkah kaki bala tentara yang kian terdengar riuh berbondong-bondong.
Memasang wajah bengis tanpa belas kasih datang meluluh-lantahkan puluhan atap
hanya dalam sekejap. Seusai tugas ditunaikan mereka mulai berpesta-pora, dengan
pongah merayakan atas kemenangan yang hanya sesaat.

Bukan meriah pesta kembang api yang menghiasi cakrawala saat malam takbir
mulai menggema. Dentuman suara peluru berpandu bersautan di seluruh penjuru
arah, sampai hati merenggut malam suci yang penuh suka cita sampai tak tersisa.
Seusai salam terakhir Salat Hari Raya kemudian memanjatkan doa, lantas sang Imam
bergegas bangkit untuk memimpin Salat dua rakaat dihadapan para syuhada yang
telah gugur. Sungguh betapa menyayat hati, yang sepatutnya hari kemenangan penuh
suka cita bersanding duka cita yang menyeruak.

Tiada sedikit pun rasa takut dalam setiap jiwa penduduk bumi syurga ini, yang ada
hanyalah rasa takut kepada Ilahi. Mereka yang sanggup berbakti kepada negara tidak
gentar berdepan lawan, hanya berbekalkan kerikil dan doa sebagai perisai. Betapa
indah hamparan surga membentang di kain sajadah yang mereka lihat setiap kali
bersujud. Mereka adalah serpihan sayap malaikat yang diturunkan ke bumi, berjuang
untuk tanah air. Sebuah negeri yang telah lama dicintai oleh seluruh umat Islam di
seluruh dunia, kota istimewa selepas Makkah dan Madinah. Negeri yang nantinya
akan menjadi saksi peristiwa penting di akhir zaman.

Sebuah peristiwa yang meruntun jiwa, menyaksikan penduduk sipil menunaikan
solat berjemaah enam kali sehari. Di antara lima waktu, shalat wajib dan shalat wajib
cukup bagi orang yang mati syahid. Tangisan anak-anak malang yang bingung akan
keberadaan ayah dan ibu mereka, derita kehilangan saudara dan saudari tercinta,
orang tua yang tampak terpukul melihat buah hati kecilnya tergeletak di balik puingpuing bekas pemboman bedebah sial tadi. Seperti sudah jatuh, tertimpa tangga. Acap
tak adil, namun tiada sedikit pun kuasa kutukan pada apa yang telah berlaku, hanya
seberkas sinar ketabahan di balik sayap yang patah.

Saksikanlah, mereka hanya segelintir pecundang mengenakan baju hijau, bersolek
kekar menenteng senapan. Seperti sekumpulan serigala yang hanya berani menerkam
mangsanya ketika mereka sedang tidur nyenyak di bawah kegelapan malam. Mereka
bebas mengheret secara paksa sesiapa sahaja yang mereka mahu, tanpa pandang
bulu. Muda atau tua, salah atau tidak, apabila seorang pemuda menuai hasil kerja
kerasnya dari kebun sendiri. Nestapa, mereka seperti orang asing di tanah air sendiri.

Ya Tuhan, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang. Lapangkan dada setiap
hamba yang tertindas, damaikan hati setiap sanubari yang mengingat-Mu. Tuhan, aku
bersaksi bahwa hati mereka yang tanpa pamrih laksana permata yang berkilau,
walaupun jauh di lubuk hati perasaannya tercabik-cabik. Seperti burung dalam
sangkar, mereka berjuang untuk tanah air yang direnggut oleh kaum tak sadar diri.
Satu-satunya keinginan mereka adalah untuk menuntut semula apa yang menjadi hak
mereka. Meski pekik lantang tak sampai pada penduduk bumi, namun suaranya
terdengar lantang oleh penduduk langit.

Senyum merekah di pipi, tak sedikit pun kekhawatiran muncul di wajah para
malaikat tak bersayap saat harus bersiap berpisah dengan keluarga. Tanpa berfikir
panjang ia rela menyerahkan diri sebagai banduan, demi melindungi orang terkasih.
Camkan ini, zionis pun tidak akan berkenan mengakui kebenaran sehingga matahari
terbit di ufuk barat nanti, penyesalan akan sentiasa datang di penghujung cerita.

Meski jasadku bersemayam disini, jiwa ini akan sentiasa ada. Bukan derai air hujan
yang membasahi nadi, tetapi setitik darah yang membasahi tanah kering bertuah.
Semoga Yang Maha Kuasa sentiasa merahmati dan menempatkan para syuhada yang
mati di syurga yang dijanjikanNya. Lambat laun, semoga semua duka lara akan
bertukar menjadi sukacita yang abadi, bersabarlah

 

Oleh :  selenofilina

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button