KaryaSastra

Alma Telah Kalah

Alma pecinta alam

Penyayang binatang, tumbuhan, dan semesta

Selalu datang keningnya tiap malam

Ucapan pujian selalu digaungkan

 

Empat belas tahun berlalu

Sejak ia berusia sepuluh tahun

Kelabu mulai menyelimuti sang kalbu

Beriring gemuruh angin yang meredup

 

Suasana sudah tidak seperti sediakala

Sejak kedatangan anak Adam dan Hawa

Kian menjadi sebuah berontakan

Yang satu menang, yang satu kalah

 

“Aduhai indah alam ini, andai ku ramaikan dengan banyak insan ke sini, pastilah takjub mereka”

 

Satu per satu yang tegak runtuh

Yang menggaung kian menciut

Tinggalah seorang sedari dulu

Membawa kitab untuk pergi bersujud

 

Kening Alma yang menghitam

Bibirnya terus mengucap

Kepala yang menengadah ke atas

Meminta suatu keajaiban untuk pulang

 

Satu hari berganti

Alma sudah tidak sadarkan diri

Terlalu lama bersimpuh untuk hal yang selalu dinanti

Namun, ia kalah dari pencuri

 

“Aku berjanji, menjaga ciptaanMu yang suci, dari tangan kotor hirarki politik pencuri semesta”

Kalimat yang terucap dari seorang yang kalah

Semua binatang, tumbuhan, dan semesta mendengar

Saat itu juga, semua tangan terangkat

Kepala menengadah ke atas

Dan saat itu juga, Alma dikalahkan

 

(Yudinda Gilang Pramudya)

Check Also
Close
Back to top button