Sudut Pandang Psikolog Terhadap Perpeloncoan

    0
    77
    Sumber: Google.com

    AksaraFeature, Bandung (4/10/2020) – Belakangan ini, isu terkait pelaksanaan orientasi mahasiswa baru atau yang lebih populer disebut Ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) kembali mencuat setelah ramai tentang perpeloncoan dalam pelaksanaan orientasi mahasiswa baru secara daring di beberapa kampus. Hal ini memicu kembali perdebatan terkait esensi pelaksanaan ospek di institusi pendidikan. Padahal, tahun lalu Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti, sebelum dialihkan ke Kemendikbud) Mohamad Nasir menegaskan semua pimpinan kampus harus memastikan tidak ada lagi tindakan kekerasan dalam kegiatan ospek. Lalu, bagaimana pandangan perpeloncoan jika dipandang dari sisi psikologi?

    Menurut sejarahnya, walau telah dimulai sejak era kolonialisme Belanda, namun masih dalam pengawasan ketat sehingga tidak sampai terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Pelaksanaan ospek dengan perpeloncoan sendiri muncul di era pendudukan Jepang. Kata pelonco sendiri muncul di Ika Daigaku yang merupakan kelanjutan dari STOVIA. Perpeloncoan dengan unsur militer yang keras, salah satunya adalah dengan menggunduli mahasiswa. Hal tersebut sempat ditentang oleh Soedjatmoko dan akhirnya dikeluarkan. Tradisi ospek keras ini berlanjut hingga pasca-kemerdekaan di beberapa kampus yang dikelola pemerintah.

    Dikutip dari Kompas, menurut Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro, ia menyimpulkan bahwa tradisi ospek yang dikenal keras di Indonesia, walau sudah jauh berkurang, merupakan bawaan dari tradisi perpeloncoan di masa pendudukan Jepang.

    Pendisiplinan semi-militer dan pembelajaran berbasis kompetisi di sekolah-sekolah dan universitas adalah penyebab masih maraknya praktik ospek yang kejam. Mereka menyarankan perubahan fokus sistem pendidikan menjadi pembangunan aspek kemanusiaan. Menurut dosen Psikologi UGM (Univesitas Gajah Mada) Novi Poespita Candra, sebagaimana dikutip dari theconversation.com, berpendapat bahwa sekadar melarang praktik perpeloncoan belum cukup.

    Ia mengatakan bahwa praktik pendisiplinan yang berlebihan dalam proses belajar-mengajar, ditambah dengan standardisasi siswa, berpengaruh pada maraknya perpeloncoan di Indonesia . Hal tersebut juga dinilai membangun sistem budaya hierarkis di sekolah. Novi mengusulkan perubahan total dalam cara kita merancang institusi-institusi pendidikan.

    “Seluruh institusi pendidikan harus berubah fungsi bukan sebagai sekadar pusat transfer of knowledge yang mengukur hasil akademik saja, tapi sebaliknya harus mengutamakan membangun nilai-nilai humanis,” katanya dikutip dari theconversation.com.

    “Jadi ini membuat ruang-ruang yang positif dimana tiap individu itu merasa diterima dan dihargai tanpa harus memamerkan kuasa mereka terhadap siswa lain.”

    Menurutnya juga, sistem pendidikan Indonesia juga masih menganut pendekatan secara behaviouristic. Pendekatan ini menggunakan sistem reward dan punishment yang dianggap membangun stimulus berdasarkan ketakutan. Hal inilah yang melanggengkan ospek yang dikatakan melatih mental dan perpeloncoan dengan mengedepankan senioritas. Untuk mengikis budaya yang bermasalah ini, pemerintah seharusnya bisa belajar dari negara-negara yang sudah memiliki kurikulum pendidikan yang matang.

    “Nah ketika kita lihat lagi, sistem pendidikan seperti di Australia dan Finlandia sudah mulai mengarah ke humanism itu tadi. Artinya bahwa, mereka memberi ruang-ruang kemerdekaan untuk setiap siswa mengisi atau menemukan dirinya kemudian embrace yang lain,” ungkapnya dikutip dari theconversation.com.

    Berbagai studi termasuk suatu laporan dari Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) mendukung pendapat dari Novi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bagaimana sekolah di Finlandia mengajarkan keberagaman dan empati sejak usia dini. Sekolah di sana juga menyediakan program anti-bullying dan tanggap dalam merespons kebutuhan psikologis siswa. Pendekatan ini mengakibatkan penurunan drastis dari kasus bullying dan pelecehan di antara siswa-siswi Finlandia.

    “Kalau pun misal belum merubah kurikulum, penciptaan ekosistem itu yang paling utama dalam perubahan paradigma,” kata Novi dikutip dari theconversation.com.

    Ia mengatakan bahwa pendekatan ini telah membantu negara-negara yang disebutkan di atas dalam mengurangi ospek yang tidak mendidik di universitas. Ia mencontohkan acara-acara orientasi di negara-negara tersebut dan mengamati bagaimana mahasiswa baru diperlakukan seperti keluarga. Kampus juga memberdayakan senior untuk menjadi mentor personal bagi mahasiswa baru. Bahkan di beberapa universitas, senior menyediakan materi-materi seperti tentang pencegahan kekerasan seksual dan juga pendidikan keberagaman rasial saat kegiatan orientasi

    Penulis : Iqbal Abdul Ra’uf

    Editor : Falaah Saputra Siregar