Featured

Bagaimana Pasar NFT Mempengaruhi Masyarakat

AksaraFeature, Bandung (29/03/2022) – Sebuah komoditas pasar baru masuk secara tiba-tiba ke dalam masyarakat Indonesia. Ia tidak memiliki fisik maupun harga pasar yang jelas, tapi ketika keberadaannya diledakkan tiba-tiba dan secara serentak diketahui oleh masyarakat Indonesia, mereka tidak segan-segan untuk ikut masuk dan berkontribusi di dalam pasar tersebut tanpa mengetahui resiko dan cara kerjanya. Pasar tersebut dinamakan Non-Fungible Token (NFT).

Apa itu NFT?

Sebelum kita masuk ke dalam bagaimana masyarakat berinteraksi dengan NFT, kita harus mengetahui dulu apa sebenarnya NFT itu. Mudahnya, NFT adalah sebuah aset digital yang dapat diperjualbelikan dan yang menjadi komoditas dari aset tersebut adalah token di dalamnya. Setiap aset memiliki token yang berbeda dan unik. Ketika terjadi proses jual beli, maka pembeli akan mendapatkan token tersebut sebagai bukti kepemilikan bahwa aset tersebut yang berbentuk token adalah miliknya.

Masuknya NFT ke Indonesia

Sebenarnya, keberadaan NFT sudah cukup lama ada. Namun, titik balik di mana masyarakat Indonesia menjadi sadar akan keberadaan NFT adalah ketika munculnya aset NFT berupa kumpulan foto selfie yang diperjualbelikan oleh seorang pemuda asal Semarang bernama Ghozali dengan username ghozali_ghozalu  di sebuah pasar NFT daring bernama Opensea.

Ghozali menjual foto selfie yang sudah ia kumpulkan selama beberapa tahun kebelakang. Hal ini menjadi semakin menarik karena harga jual beli dari foto-foto tersebut. Selama penjualannya, aset-aset NFT milik Ghozali sudah terjual dengan total nilai transaksi mencapai 397 Ethereum atau sekitar lebih dari 100.000 dolar. Hal ini tentu mengejutkan sebagian masyarakat Indonesia, bagaimana hanya dengan menjual foto diri sendiri secara daring dapat menghasilkan keuntungan sebanyak itu?

Interaksi masyarakat Indonesia dengan NFT

Melihat bagaimana penjualan NFT dapat menghasilkan keuntungan dengan nilai yang tidak bisa dibilang kecil, masyarakat pun tidak ingin ketinggalan untuk memanfaatkan momen-momen puncak dari keberadaan pasar NFT di Indonesia ini. Beberapa masyarakat Indonesia ada yang mulai ikut menjual beberapa aset digital, seperti karya seni, hasil fotografi, bahkan ada pula yang hanya melakukan jual beli dengan maksud menyimpan investasi nilai NFT. 

Namun, tidak lama kemudian, muncullah masyarakat yang menyalahgunakan pasar NFT sebagai sarana melakukan jual beli dengan aset digital yang terbilang tidak layak untuk diperjualbelikan. Ada cukup banyak foto-foto yang tidak memiliki maksud yang jelas, hingga foto dari KTP milik orang lain. Perilaku ini cukup berbahaya apabila diteruskan dengan dalih ingin mengikuti tren dan cepat kaya.

Munculnya perilaku FOMO dalam masyarakat

Ada istilah tersendiri bagi orang-orang yang hanya melakukan suatu hal didasari oleh tren tertentu, yaitu Fear of Missing Out atau disingkat FOMO. Seperti namanya, perilaku ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk selalu mengikuti sebuah tren baru tanpa mengetahui mengapa dan bagaimana tren ini muncul. Perilaku ini dapat disebut sebagai sesuatu yang tidak sehat, terutama dengan apa yang terjadi pada pasar NFT di Indonesia.

Ketidaktahuan pada teknologi yang bekerja, dalam hal ini NFT, dapat menyebabkan banyak orang beranggapan bahwa cara kerja NFT hanya dilakukan dengan cara mengunggah sesuatu di pasar tersebut dan membiarkan orang lain membelinya sehingga penjual tersebut akan menghasilkan uang. Pernyataan tersebut tidaklah salah, namun mereka yang hanya memikirkan transaksi jual beli tidak memperhatikan apa yang harus disiapkan sebelumnya dan apa yang akan terjadi apabila transaksi tersebut sudah terjadi.

Fenomena seperti ini menyebabkan masyarakat menjadi buta akan hal yang lebih penting dibalik dunia NFT tersebut. Keberadaan NFT tidak hanya membuka peluang jual beli aset digital saja, namun juga membawa sebuah teknologi baru bersamanya, yaitu teknologi blockchain

Mari kita lihat dan kita uji, berapa banyak masyarakat pelaku pasar NFT yang paham atau bahkan menyadari teknologi yang menjadi tulang punggung dari sistem NFT itu sendiri. Mungkin ada sebagian yang memang paham betul tentang blockchain, tetapi mereka yang tidak paham sama sekali dan hanya dapat melihat atau mengetahui aspek jual belinya saja mungkin sama banyaknya.

Walaupun begitu, Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, beranggapan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah melihat awamnya masyarakat Indonesia terhadap teknologi yang baru ini. “Ini hal baru, biarkan, nanti masyarakat belajar dari pemberitaan. Jadi, NFT itu adalah metode baru untuk jual beli, sebenarnya dia marketplace barang-barang digital ya,” tuturnya ketika diwawancarai oleh Uzone.id saat Peluncuran Indeks Literasi Digital 2021 di Jakarta Pusat, Kamis (20/01/2022).

Di balik teknologi NFT yang sedang berkembang

Jadi, sebenarnya apa yang masyarakat Indonesia perlu ketahui tentang dunia NFT? Melihat betapa populernya NFT sekarang ini, perlu diketahui bahwa NFT juga menimbulkan beberapa kontroversi yang patut dipahami. Salah satu kontroversi terbesar adalah teknologi blockchain dibalik NFT memiliki dampak yang sangat buruk untuk lingkungan karena besarnya energi yang ia butuhkan. Tidak hanya itu, cara bekerja aliran pasar NFT yang memang tidak mudah dipahami menjadi salah satu poin kontroversi juga dengan NFT yang dipandang sebagai pemberi harapan palsu yang mendorong masyarakat kepada konsumerisme tanpa makna, terutama dengan keawaman masyarakat di Indonesia. Dengan konsep ini, NFT terkenal menjadi tempat yang sangat penuh dengan skema-skema penipuan. Adapun karena teknologi NFT tergolong sebagai teknologi yang masih lumayan baru, tidak banyak hukum-hukum yang memberikan perlindungan dalam ruang virtual blockchain ini. Risiko-risiko dibalik NFT patut dipertimbangkan juga oleh masyarakat ketika memutuskan untuk terjun ke dunia NFT.

Menuju sikap yang lebih sehat

Walaupun keawaman masyarakat menjadi faktor utama dalam sehat atau tidaknya pasar NFT di Indonesia, tetap saja hal tersebut tidak boleh menjadi pembenaran dalam melakukan proses jual beli yang salah. Masyarakat tidak boleh hanya sekadar tahu mengenai bagaimana cara menghasilkan uang dengan NFT, namun juga perlu adanya proses transfer knowledge dari keberadaan pasar tersebut.

Di satu sisi, sikap FOMO yang terjadi pada masyarakat juga dapat dimanfaatkan menjadi sarana baru untuk mempelajari lebih dalam tentang bagaimana teknologi dibalik NFT bekerja. Dengan begitu, keberadaan NFT di Indonesia tidak hanya dapat menghasilkan keuntungan secara materiil saja bagi masyarakat, namun juga secara pengetahuan digital.

 

Penulis: Inara Muthia & Rayhan Rusyd

Editor: Charissa Zahra

Source
uzonecyberscrilliaoneartnationedarxivthevergepostergrindbusinessofbusiness

Related Articles

Back to top button