Headline

Belum Genap Satu Bulan, Mesin Pembaca RFID Kembali Dinonaktifkan

AksaraNews, Bandung (13/9/2018) – Telkom University resmi membuat aturan perihal penggunaan kartu identitas pada pengendara sepeda motor yang akan memasuki wilayah kampus. Aturan ini resmi diberlakukan sejak tanggal 10 Juli 2018.

Bagi mahasiswa, kartu identitas yang digunakan ialah Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) untuk bisa membuka portal dengan cara tapping. Sedangkan, masyarakat umum yang akan masuk ke wilayah Telkom University dapat menukar Surat Izin Mengemudi (SIM) atau Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan visitor card. Sayangnya, aturan tersebut sedang tidak berlaku di gerbang motor Telkom University arah Sukapura. Hal ini dikarenakan mesin pembaca RFID tersebut rusak.

Menurut Zakaria, selaku Kepala Bagian Logistik Telkom University, rusaknya mesin pembaca RFID tersebut dikarenakan beberapa mahasiswa melakukan tapping KTM langsung dari dompet. Hal ini menyebabkan kartu-kartu yang terdapat dalam dompet ikut terbaca oleh mesin dan menyebabkan sistem yang ada menjadi bermasalah.

Zakaria mengungkapkan bahwa pihak kampus sudah mengupayakan untuk pemesanan mesin baru. Dengan demikian, maka peraturan mengenai penggunaan kartu identitas ini untuk sementara waktu dinonaktifkan.

Zakaria menambahkan bahwa kebijakan tersebut akan diberlakukan kembali setelah mesin pembaca RFID tersedia. “Untuk ke depan visitor card dan mesin pembaca RFID akan berjalan secara bersamaan. Dan diusahakan dapat digunakan 100%. Diharapkan mahasiswa lebih berhati-hati dalam menggunakan mesin pembaca RFID agar tidak ada kerusakan lagi. Selain itu, mahasiswa diharapkan dapat segera mengaktifkan sistem smart parking yang ada di Igracias,” ungkap Zakaria.

Disinggung mengenai dampak kemacetan yang akan ditimbulkan akibat peraturan tersebut, Zakaria sudah menemukan solusi. Pihak kampus akan menggunakan sistem tapping portable. Keunggulan dari penggunaan mesin ini ialah jarak titik tapping dapat diatur sesuai jarak.

Mutiara Lestari, mahasiswa MBTI angkatan 2016, mengaku hanya satu kali melakukan tapping di gerbang motor FKB. Setelahnya tidak kontinu. Selain itu, tidak ada sosialisasi mengenai tujuan diberlakukannya sistem tapping, dari kampus maupun BEM.

Mutiara mengatakan bahwa dirinya pro terhadap peraturan tersebut karena membuat alur keluar-masuk kawasan Telkom University jelas. “Kalau menurut aku sendiri, pro. Soalnya agar lebih aman dan disiplin,” ujar Mutiara.

Namun, Mutiara sendiri menilai solusi kemacetan yang disampaikan pihak kampus kurang efektif. “Jadi, sebenarnya malah tambah macet apalagi di pagi hari. Masalah pun muncul karena anak-anak sekitar berangkat sekolah melewati kawasan Telkom University. Banyak dari masyarakat yang lebih ke kontra,” kata Mutiara.

 

Penulis : Fidya Rahmawanti

Editor : Dennis Retno Widyastuti

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button