Botchan, Kisah Modern-Klasik Pejuang Kejujuran

    0
    93
    Sumber Gambar: Google

    AksaraFeature, Jakarta (29/06/2019) – Botchan merupakan fiksi Jepang yang ditulis oleh Natsume Sōseki pada tahun 1906. Novel setebal 224 halaman ini diterjemahkan pertama kali ke dalam Bahasa Inggris oleh Alan Turney pada tahun 1971, yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sementara itu, terjemahan dalam Bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan oleh PT Gramedia pada Februari 2009, lalu memasuki cetakan kedua pada Juni 2009. Saat ini, Botchan masih menjadi novel modern-klasik yang memiliki kedudukan penting dalam sastra Jepang dan banyak diminati di berbagai negara.

    Novel ini menceritakan tentang pemberontakan seorang guru muda terhadap sistem pendidikan di sebuah desa terpencil. Botchan, guru muda sekaligus pemeran utama, berasal dari keluarga kecil yang tinggal di Tokyo. Sejak kecil, Botchan diasuh oleh seorang pelayan tua bernama Kiyo. Kenakalan Botchan yang melebihi anak-anak seusianya pada saat itu, membuatnya dianggap sebagai anak yang gagal dan berandal. Saat itu tak ada yang menyayangi Botchan selain Kiyo yang sudah menganggap Botchan seperti anak kandungnya. Botchan sendiri merupakan sebuah panggilan sopan untuk anak laki-laki yang berasal dari keluarga terpandang. Sebutan ini serupa dengan panggilan “tuan muda”, tetapi identik dengan kasih sayang.

    Setelah lulus sekolah, Botchan ditugaskan untuk mengajar di sebuah kota terpencil, Shikoku. Sifatnya yang terlalu jujur serta pemberani, membuat Botchan seringkali terjebak dalam masalah. Botchan tak segan-segan menyuarakan kebenaran walau dengan taruhan nyawa sekalipun. Sebagaimana pada umumnya, kejujuran akan dihadapkan dengan kebohongan dan kelicikan. Hal itulah yang hadapi oleh Botchan di sekolah barunya. Rekan-rekan pengajar dengan sifat culas, penjilat, dan licik membuat Botchan merasa harus bisa menegakan tongkat keadilan dan kejujuran sebelum akhirnya mengundurkan diri dari sekolah tersebut.

    Penggambaran cerita dengan sudut pandang orang pertama serba tahu, membuat pembaca seperti sedang membaca buku harian milik Botchan. Penulisan dengan bahasa yang baku khas sastra lama, membuat cerita ini terasa “jadul” tetapi tetap mengalir dan mudah dipahami. Kalimat-kalimat satir yang terselip di dalamnya membuat cerita ini terasa lebih hidup. Terlebih karena permasalahan yang diangkat merupakan permasalahan yang masih terjadi hingga saat ini. Sayangnya, karena berlatar tahun 1906, pembaca menjadi sulit membayangkan keadaan pada masa itu.

    Penulis: Annisa Nisrina

    Editor: Dewa Made Surya Permana Mastra