Bullying Masih Menjadi Isu Serius di Dunia Pendidikan

    0
    406
    Sumber Gambar : Google

    AksaraFeature, Bandung (24/4/2018) – Perundungan atau yang biasa kita kenal dengan istilah bullying sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Perundungan merupakan suatu perlakuan yang bersifat mengganggu, mengusik, menyusahkan, atau menyakiti secara terus menerus, baik secara fisik maupun nonfisik.

    Perundungan bisa terjadi dimana, kapan, dan kepada siapa saja. Setiap lingkungan sosial rentan terhadap kasus ini, tidak terbatas pada usia, kalangan, atau golongan apa pun. Suatu lingkungan yang terlihat harmonis pun tidak bisa menjamin bahwa perundungan tidak akan terjadi di dalamnya. Banyak tindakan yang secara sadar atau tidak sadar dikategorikan sebagai tindakan perundungan, seperti memanggil seseorang dengan julukan yang buruk, mengucilkan seseorang di dalam suatu kelompok, menyakiti secara fisik, dan mengatakan kebohongan agar seseorang tidak disukai orang lain.

    Ada berbagai macam dampak ditimbulkan dari aksi ini, baik bagi pelaku maupun korban. Pelaku akan merasa memiliki kekuasaan penuh di lingkungannya dan cenderung akan memiliki watak yang keras. Sementara itu, berbagai macam dampak negatif akan dialami oleh korban. Memiliki rasa cemas yang berlebihan, tidak percaya diri, ketakutan apabila menjadi pusat perhatian, marah, depresi, dan lain-lain. Dampak yang lebih mengerikan adalah tak jarang korban perudundungan memutuskan bunuh diri atau berkeinginan balas dendam.

    Kasus perundungan di Indonesia sendiri paling sering terjadi di kalangan pelajar dalam lingkup pendidikan. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, kejadian malang menimpa seorang mahasiswa Universitas Gunadarma, Depok. Mahasiswa tersebut mendapat perlakuan buruk dari tiga mahasiswa kampus tersebut. Kasus ini mencuat setelah rekaman video aksi perundungan terhadap korban menyebar dan menjadi viral di media sosial. Akibat perlakuan tersebut, korban mengalami trauma berat seperti yang dilansir OkeZoneNews pada Kamis (20/7/2017).

    Padahal pemerintah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 76 C yang berbunyi “Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak.” serta Pasal 54 ayat (1) dan (2) yang berbunyi “(1)  Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. (2)  Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.” Adapun salah satu hukuman bagi pelaku kekerasan sebagaimana telah disebutkan pada Pasal 76 C telah diatur dalam Pasal 80 yaitu pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

    Seharusnya undang-undang tersebut dapat menjadi acuan dan dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku tindak perundungan. Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila pelajar mengabaikan tindak kekerasan ini, apalagi sampai ikut serta melakukannya. Padahal sebagai generasi penerus bangsa, pelajar harus bisa mengimplementasikan pendidikan yang mereka dapatkan untuk kehidupan sehari-hari, terutama tentang pendidikan moral. Selain itu, pelajar juga dituntut untuk meningkatkan kepekaannya terhadap lingkungan agar perundungan bisa diminimalisasi.

    Penulis: Fidya Rahmawanti

    Editor: Annisa Nisrina