Catatan Akhir Bissu: Manusia Setengah Dewa

    0
    111
    Sumber: google.com

    AksaraFeature, Bandung (26/10/2019) – “Suatu ketika negara akan sadar pentingnya kehadiran Bissu. Jika sekarang Bissu betul-betul menghilang, maka kelak mereka akan menyesal”. Begitulah ucap Bissu berdarah bugis asli bernama Soppeng Sakke. Ia masih gigih mengajar Bissu yang baru, walaupun ia sudah tahu bahwa Bissu akan punah. Bissu merupakan kelompok asal Bugis, Sulawesi Selatan yang menghilangkan nafsu duniawinya untuk mengabdi kepada dewa di langit dan kerajaan. Bissu bukanlah pria maupun wanita. Perluasan spektrum gender ini yang menyebabkan Bissu sering mendapat intimidasi dari budaya sekitar.

    Isu gender menjadi headline di berbagai negara. Banyak orang yang membela mereka yang hidup di luar gender laki-laki maupun perempuan. Tidak sedikit juga yang melawan karena dianggap menghina norma sosial dan agama. Namun sebetulnya, budaya Bugis sudah berkompromi dengan bermacam-macam gender jauh berabad-abad yang lalu.

    Menurut antroprolog Australia, Sharyn Graham dalam “Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia”, masyarakat Bugis mengenal empat gender dan satu paragender, yaitu laki-laki (oroane), perempuan (makunrai), perempuan yang berpenampilan layaknya laki-laki (calalai), laki-laki yang bepenampilan layaknya perempuan (calabai), dan paragender (Bissu).

    Bissu berasal dari kata bessi yang dalam bahasa Bugis artinya bersih. Bersih dalam arti tidak berdarah, suci, tidak menyusui, dan tidak haid. Bissu merupakan kelompok religius yang mengabdi kepada kerajaan. Bissu dianggap sebagai manusia setengah dewa oleh masyarakat Bugis. Mereka juga memiliki fungsi sebagai pemimpin upacara-upacara adat dan penyambung mulut raja.

    Untuk menjadi Bissu, orang tersebut harus “mengebiri” hawa nafsunya hingga tidak boleh menikah dan tidak memiliki satu identitas gender tertentu. Bissu berpenampilan seperti wanita, tetapi secara fisik mereka merupakan laki-laki. Oleh karena itu, orang awam sering menganggapnya dengan “waria”.

    Pada awal masuknya Islam, Bissu tidak menjadi masalah. Dikarenakan Islam menyebar secara kooperatif dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Tahun 1960-an, eksistensi Bissu mulai dipermasalahkan oleh kelompok ekstrimis Islam dari Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakkar. Bissu menjadi salah satu target Kahar Muzakkar, karena Bissu dianggap berlawanan dengan agama Islam dan membangkitkan feodalisme. Tahun 1966, Kahar Muzakkar mencanangkan Operasi Toba (Taubat) dengan misi memberantas seluruh Bissu di tanah Bugis. Alhasil, jumlah Bissu berkurang pesat. Beberapa dari mereka melarikan diri ke goa-goa dan disembunyikan oleh orang-orang yang masih percaya dengan kehebatan Bissu.   

    Setelah kelompok Kahar Muzakkar diberantas, jumlah anggota Bissu terus berkurang. Benturannya dengan ajaran agama Islam menjadi faktor utama berkurangnya Bissu. Hal ini dikemukakan oleh Yusran, M. Hum., Dosen Filsafat dan Politik, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah. Bissu dianggap menyalahi syariat Islam dan sunnatullah oleh beberapa pengamat, terutama dari kalangan agamawan. Namun, hal tersebut dibantah oleh Yusran. “Bissu adalah jenis gender dan perilaku sosial yang jauh berbeda dengan waria. Bissu adalah sejenis pendeta dalam agama Bugis kuno praIslam,” jelas Yusran.

    Saat ini Bissu tersebar di Bone, Wajo, Pangkep, dan Soppeng. Dikutip dari artikel Detiknews berjudul “Jumlah Bissu di Masyarakat Bissu Kian Menyusut”, jumlah Bissu di Kabupaten Pangkep hanya tersisa enam orang dan hanya lima orang yang masih menjalankan tradisi sebagai Bissu.  Tidak menutup kemungkinan eksistensinya akan musnah.  

    Menjaga kebudayaan menjadi tanggung jawab kita bersama. Meskipun hal tersebut bertentangan dengan tradisi masyarakat lain, kebudayaan tetap harus dihormati. Lebih bijak jika mengambil hikmah dari setiap kebudayaan daripada menentangnya hanya karena tidak sepaham. “Penting untuk melihat pesan yang tersembunyi di balik fenomena yang unik ini. Sebab tidak mungkin sebuah kebudayaan lahir dan bertahan serta memainkan peran penting dalam masyarakat itu hadir begitu saja. Pasti selalu ada pertimbangan rasional dan manfaat yang menjadi alasan masyarakat untuk menjaganya selama berabad-abad. Meskipun dengan kemasan (bentuk kebudayaan) yang terkesan menyimpang atau dianggap “berpenyakit” bagi kebudayaan atau tradisi lain,” tutup Yusran.

    Penulis: M. Arief Syahnakri A.

    Editor: Dewa Made Surya