Corak Dua Budaya Golok Tan Cheng Lim

    0
    46
    Sumber : Google

    AksaraFeature, Bogor (26/06/2020) – Golok menjadi sebuah benda yang cukup digemari oleh beberapa kalangan masyarakat. Benda tajam ini digemari karena beberapa alasan seperti sejarahnya, keunikannya, serta filosofi yang ada pada golok tersebut. Salah satunya adalah Golok Cheng Lim yang merupakan warisan turun temurun milik leluhur Cina dari Tarisi, Jasigan, Bogor. 

    Kemunculan Golok Cheng Lim ini bermula pada masa penjajahan, setelah banyak pabrik karet swasta yang dirusak dan dikuasai Jepang, para penduduk menguasai seluruh pabrik bekas Belanda yang mayoritas pekerjanya beretnis Tionghoa dari Tangerang. Para pekerja tersebut tinggal disebuah desa yang bernama Tarisi secara berkelompok dengan beberapa kepala keluarga.  Kepala Desa Tarisi pada saat itu, Haji Sanusi, diminta oleh pemerintah Jepang untuk membuat  bayonet (Pisau untuk ujung senapan) demi memenuhi kebutuhan militer Jepang. Haji Sanusi menunjuk Tan Cheng Lim, salah seorang pekerja beretnis Tionghoa untuk membuat senjata tersebut. Pada Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerahkan diri, lalu produksi pembuatan pisau diganti dengan pembuatan golok.

    Golok buatan Tan Cheng Lim mempunyai bentuk dan corak yang khas. Perpaduan corak pribumi dan Tionghoa menjadi ciri khas dari golok ini. Kendati demikian, tidak ada label atau pun merek yang tercantum di golok tersebut. Cheng Lim berpikir, apabila terjadi sesuatu yang fatal dan ditemukannya barang bukti golok ini, maka tidak dapat terlacak dari mana golok ini berasal. Setelah wafatnya Tan Cheng Lim, produksi golok dilanjutkan oleh putranya yang bernama Tan Soe Hay. 

    Kepopuleran golok buatan Tan Cheng Lim terus berkembang pesat hingga saat ini. Bahkan tak jarang orang dari luar pulau Jawa turut memesan Golok Cheng Lim. Pemesanan dapat dilakukan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, ataupun melalui Whatsapp. Para pemesan biasanya menjadikan golok ini sebagai hiasan. Pemesan dapat meminta sendiri model yang diinginkan sesuai keinginan. Kisaran harga yang ditawarkan bervariasi tergantung model dan kerumitan yang diinginkan. Biasanya, beberapa model dipasarkan dengan harga 500 – 900 ribu rupiah bahkan dapat mencapai 1 juta rupiah. 

    Penulis: Yudinda Gilang Pramudya

    Editor: Falaah Saputra Siregar