Gerbang 2 dan Gerbang 3 Ditutup, Kebijakan Bersifat Situasional

0
483

AksaraNews, Bandung (2/2/2019) – Sejak akhir November, Telkom University menerapkan kebijakan penutupan gerbang 2 dan gerbang 3. Kebijakan ini berlaku setiap hari libur, khususnya hari Minggu. Oleh karena itu, kendaraan hanya bisa masuk dan keluar melalui gerbang 1 atau yang biasa dilewati oleh motor.

Menurut Zakaria, Kepala Rumah Tangga Logistik Telkom University, kebijakan ini diberlakukan sebagai strategi keamanan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun sampai saat ini, kebijakan tersebut masih bersifat situasional. Hal tersebut berarti, jika pada hari libur terdapat kegiatan di dalam kawasan kampus, pihak logistik akan berkoordinasi dengan satpam untuk membuka gerbang 2, gerbang 3, atau gerbang Radio.

Semetara itu, pihak kampus tidak melakukan sosialisasi sebagai salah satu upaya dari strategi keamanan. “Tidak  harus sosialisasi, misal minggu ini ditutup, karena tidak akan efektif. Istilahnya seperti strategi dalam bertempur,”ujar Zakaria.

Perihal keamanan, Zakaria mengungkapkan bahwa civitas akademika Telkom University tetap memakai kartu identitas untuk bisa masuk ke dalam kawasan kampus. Visitor card pun masih berlaku agar keamanan lebih terpantau. Namun untuk saat ini, tapping KTM tidak berjalan di beberapa titik gerbang seperti pada gerbang 1. Hal ini dikarenakan Badan Logistik Telkom University sedang melakukan tahap pergantian reader (mesin pembaca RFID) baru. Pergantian ini guna meminimalisasi kesalahan akibat alat sensor yang lambat membaca RFID.

Dadi Jayadi dan Fiky Felani, selaku satpam Telkom University, membenarkan bahwa tetap diadakan koordinasi pemantauan saat ditutupnya gerbang 2 dan gerbang 3. Tujuannya agar tidak terjadi hal yang mencurigakan serta pengamanan lebih maksimal.

Sementara itu Thoriq Barambilah, Teknik Industri 2018, berpendapat bahwa kebijakan ini tidak efektif karena dapat menimbulkan kemacetan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang tidak mengetahui gerbang ditutup sehingga kendaraan harus memutar balik.  

Maretta Giri Anjani, mahasiswa D4 Sistem Multimedia 2017, juga mengatakan bahwa peraturan ini tidak menjadi solusi. Banyaknya mahasiswa yang tinggal di asrama dan keluar-masuk kampus di hari libur, berdampak pada meningkatnya jumlah kendaraan yang lalu-lalang. Namun, hal tersebut tidak terimbangi dengan hanya dibukanya gerbang 1.

Sementara itu, Jaya, selaku pengemudi taksi online mengaku bahwa ia tidak mengetahui kebijakan tersebut. “Ya, saya tidak tahu ada kebijakan baru seperti itu,” tegas Jaya.

 

Penulis: Citra Bella

Editor: Fidya Rahmawanti