Headline

Huru Hara PEMIRA: Kemelut dibalik Pesta Demokrasi  

AksaraNews, Bandung (9/06/2022) – Salah satu kunci kesuksesan suatu organisasi adalah regenerasi. Hal tersebut juga berlaku bagi badan eksekutif dan legislatif kampus yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM).  Pemilihan Raya atau yang lebih dikenal sebagai PEMIRA, merupakan salah satu pesta demokrasi yang dilaksanakan di Telkom University. Bertujuan sebagai acara pemilihan Presiden Mahasiswa (presma) beserta wakilnya dan DPM independen, acara ini menjadi ajang regenerasi para pejabat kampus. Selayaknya perayaan megah yang disorot banyak mata, PEMIRA tak luput menjadi topik hangat pembicaraan mahasiswa, apalagi keterlambatan pelaksaaan yang menyisakan tanda tanya bagi sebagian orang.

Seperti pemilihan umum yang dilaksanakan setiap pergantian masa jabatan, PEMIRA pun diselenggarakan tiap tahun demi mengisi kekosongan pengurus dalam lingkup BEM dan DPM. Dikutip dari timeline rangkaian acara yang diunggah dalam akun instagram @pemiratelu2022, pesta demokrasi ini rencananya akan berlangsung dari tanggal 31 Mei 2022 hingga 1 Juli 2022.

Jika dibandingkan berdasarkan metode pelaksanaannya, PEMIRA tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2021. Nur Muhammad Faqiih, sebagai ketua dari Komisi Pemilihan Raya (KPR), menyampaikan bahwa sama seperti tahun kemarin yang memanfaatkan aplikasi MyTelU sebagai platform pemilihan, tahun ini juga direncanakan untuk  menggunakan media yang sama.  Lebih lanjut menurut Muhammad Galib, selaku ketua dari Badan Pengawas Pemilihan Raya (BPR), perbedaan pelaksanaan PEMIRA tahun ini dan sebelumnya hanya terletak pada periode pelaksanannya.

Berdasarkan penuturan Faqiih, PEMIRA tahun ini akan terlaksana sepenuhnya secara daring mengingat belum seluruh mahasiswa melaksanakan perkuliahan secara hybrid. Beliau juga berpendapat bahwa pemilihan secara daring adalah sebuah perkembangan positif jika menilik universitas lainnya, seperti Universitas Indonesia, yang telah melaksanakan pemilihan secara daring dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan jumlah partisipan pada tahun ini agar dapat melebihi tahun kemarin yang hanya berkisar antara tiga ribu hingga lima ribu partisipan. Satu-satunya kegiatan yang akan dilaksanakan secara hybrid adalah kampanye para calon.

Menyinggung keterlambatan pelaksaan PEMIRA tahun ini, Faqiih mengungkapkan bahwa pelaksaan Ujian Tengah Semester (UTS) dan bulan suci Ramadhan adalah alasan utama mengapa timeline PEMIRA tahun ini mundur. Selain itu, mengutip dari klarifikasi yang disampaikan oleh Ardhan Harish Rahadian, Pimpinan 1 DPM KEMA Tel-U, pada sosialisasi PEMIRA hari Senin (30/05), bahwa minimnya pendaftar KPR dan BPR tahun ini menjadi alasan selanjutnya.

“Seharusnya KPR dan BPR beranggotakan sekitar 15 orang sehingga dapat mempermudah kita (KPR dan BPR) untuk bergerak lebih leluasa, namun pendaftar tahun ini benar-benar sedikit. KPR dan BPR hanya ada 11 orang totalnya. Yang semestinya memiliki jumlah divisi lebih banyak, jadinya dipangkas habis-habisan. Lalu, kurangnya koordinasi antara KPR 2021 dan KPR 2022, entah bagaimana urusannya, koordinasi yang ada sangat minim.” Ujar Faqiih.

“Untuk masalah antisipasi, ini hanya bisa dilakukan oleh DPM karena kita merupakan badan independen yang tugasnya hanya melaksanakan (PEMIRA 2022). Untuk pelaksanaan tahun berikutnya, itu tergantung DPM yang terpilih tahun depan. Walaupun begitu, kita sudah ngobrol dengan Mas Ardhan, bersama Galib juga, kalau mau tahun depan tidak ada ngaret lagi, ya dibikin proker DPM itu membuat BPR dan KPR terlebih dahulu.” Lanjut Faqiih membahas tentang antisipasi atas kejadian keterlambatan tahun ini.

Galib menambahkan bahwa untuk kelancaran PEMIRA tahun depan, BPR dan KPR tahun ini dan tahun depan harus lebih sering berkonsultasi sehingga penggunaan waktu menjadi lebih efisien. Beliau menyampaikan bahwa kurangnya komunikasi antara BPR dan KPR tahun ini dengan tahun kemarin menyebabkan kurangnya pemahaman atas hambatan yang dihadapi dan penggunaan alur yang tepat.

Sebagai penutup, Faqiih berharap dalam pelaksaanan tahun ini jumlah partisipan mencapai 70-75% mahasiswa, sehingga dapat mewakilkan aspirasi  mahasiswa Telkom University kepada Presiden Mahasiswa yang terpilih. Serta, seluruh rangkaian acara berjalan sesuai timeline, lancar, dan tidak ada drama. Galib juga berharap agar pelaksaan PEMIRA tahun ini berjalan lancar, tanpa hambatan sehingga berjalan sesuai timeline yang telah diatur dan tidak ada kemunduran lagi.

 

Penulis: Iswara Wisari, Kayyisa Zulfa

Editor: Tesyalonica Adriana Dewi

Related Articles

Back to top button