Opini

Iklim Organisasi: Apakah Masih Sehat Bagi Anggota yang Tergabung di Dalamnya?

AksaraNews, Bandung (6/4/2021) – Kurang lebih sudah dua tahun Indonesia mengarungi masa pandemi Covid-19, hal ini tentu mempengaruhi banyak hal termasuk kegiatan organisasi di kampus. Mengharuskan organisasi terus beradaptasi mengikuti situasi yang terjadi dan tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama agar setiap agenda organisasi di masa pandemi Covid-19 dapat dipersiapkan dengan matang. Terhambatnya kegiatan organisasi untuk sementara waktu tentu akan mempengaruhi iklim dalam sebuah organisasi, baik bagi mahasiswa yang baru berkontribusi dalam organisasi maupun bagi mahasiswa yang sudah lama berkecimpung dalam organisasi.

Iklim setiap organisasi saat ini pastinya berbeda-beda, ada yang ramai dan aktif layaknya sebelum terjadi pandemi, namun ada juga yang sepi dan banyak kegiatan yang tidak terlaksana dengan baik. Salah satu anggota divisi keilmuan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himaku), Elsi Vinalsy, berpendapat bahwa aktivitas dalam Himaku cukup banyak dan padat, apalagi masa jabatan sebelumnya berlangsung hanya dalam 6 bulan sehingga kegiatan Himaku di masa pandemi ini dapat dikatakan cukup aktif. Oleh karena itu, menurutnya masih sehat bagi mahasiswa untuk menjadi bagian dari Himaku.

Lain halnya dengan organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tel-U dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Tel-U. Salah satu anggota BEM dari divisi lingkungan hidup berpendapat bahwa iklim organisasinya dapat dikatakan tidak bagus dikarenakan BEM sendiri merupakan organisasi yang berhubungan langsung dengan masyarakat internal maupun eksternal kampus, terkhususnya mahasiswa. Di mana masih banyak pro dan kontra antara pihak BEM dan mahasiswa yang sulit untuk diatasi, apalagi pada masa pandemi ini yang menyebabkan komunikasi antara mahasiswa dan BEM sangat sulit untuk dilakukan.

Begitu pula dengan DPM yang pada masa pandemi ini mengalami beberapa hambatan. DPM sendiri sempat kesulitan hingga terpaksa meninggalkan isu terkait kenaikan BPP pada masa pandemi yang seharusnya perlu dikawal dan ditindaklanjuti. “Yah itu penyesalan kami para DPM tidak mengawal itu lebih lanjut. Yah mungkin sedikit telat ya, cuma kita akan coba merundingkan dengan dewan-dewan lain. Awalnya kenapa tidak ditindaklanjuti karena ada narasi bahwa akan dilakukan Hybrid Learning.” Ucap salah satu anggota DPM bagian Biro Manajerial Parlemen.

Beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Daerah pun mengalami hal yang serupa di masa pandemi ini. Salah satu anggota UKM Keluarga Besar Sumatera Utara (KBSU), Erisa Ginting, berpendapat bahwa masa pandemi ini memang menjadi penghalang utama dalam berkegiatan di organisasi. Sulitnya berkomunikasi antar anggota membuat banyak kesalahpahaman dalam berorganisasi sehingga mempengaruhi terjalinnya hubungan antar anggota. Kegiatan seperti rapat juga terkadang sulit untuk diikuti dan dipahami karena banyak kendala dan keterbatasan, salah satunya kendala dalam jaringan yang dapat membuat situasi tidak kondusif.

Sama halnya dengan kondisi UKM Unit Kebudayaan Mahasiswa Aceh (UKMA), di mana masa pandemi ini menjadi rintangan besar yang dapat menghilangkan antusiasme berorganisasi di UKM itu sendiri.

Terlepas dari baik buruknya berorganisasi di masa pandemi, pada akhirnya organisasi dengan anggota yang aktif dan antusias untuk berorganisasi dan bekerja demi memajukan organisasinya merupakan yang terbaik untuk dipilih dan dipertahankan. Walaupun rintangan tidak dapat dielakkan, apabila dijalani dengan semangat mahasiswa maka organisasi akan terus maju menjalankan tugasnya di kalangan mahasiswa.

 

Penulis: Cindy Benedicta Deliana dan Rifaldi Ricky S

Editor: Tesyalonica Adriana Dewi

Related Articles

Back to top button