Istirahatlah Kata-Kata: Misteri Keberadaan Wiji Thukul

    0
    430

    AksaraFeature, Bandung (1/4/2018) – Istirahatlah Kata-kata merupakan film fiksi sejarah yang diproduksi tahun 2017. Mengkisahkan perjalanan Wiji Thukul melarikan diri dari kampung halamannya, Solo, tahun 1996. Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen memiliki alur maju berlatar waktu tahun ‘90an. Dibintangi Gunawan Martyanto sebagai Wiji Thukul, karakter Wiji terkesan mengalir apa adanya, hal tersebut sangat bertolak belakang dengan catatan sejarah yang mengenal Wiji Thukul sebagai tokoh yang teguh pendirian namun penyayang.

    Wiji Thukul sendiri adalah seorang sastrawan sekaligus pejuang Hak Asasi Manusia. Ia aktif melawan penindasan rezim Orde Baru dengan ikut serta dalam demonstrasi masyarakat. Seperti demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo (1992). Tahun berikutnya Wiji Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Tahun 2000, istri Wiji, Siti Dyah Sujirah melaporkan suaminya ke daftar orang hilang karena keberadaan Wiji Thukul tidak diketahui sejak tahun 1998. Diduga, Wiji hilang diculik oleh aparat negara. Hal tersebut disebabkan oleh puisi-puisinya dan keaktifnya dalam melakukan demonstrasi. Hingga kini, keberadaan Wiji tidak diketahui dan masih menjadi misteri.

    Wiji Thukul pergi ke daerah-daerah di Indonesia sambil menulis puisi-puisi pro-demokrasi. Hal ini dilakukan Wiji untuk menghindari kejaran aparat polisi yang ingin menculiknya. Namun, laki-laki itu justru hilang diculik tidak lama setelah ia bertemu istrinya.

    Istirahatlah Kata-Kata, yang diproduksi oleh Muara Indonesia, Partisipasi Indonesia, Limaenam Film, dan Kawankawan Film, mendapatkan banyak penghargaan seperti Festival Film Indonesia dan Usmar Ismail Award. Penayangan film ini pun terbatas, sehingga kita harus mencarinya di acara atau tempat tertentu.

    Latar waktu tahun ‘90an dan alur cerita yang terfokus pada perjalanan Wiji Thukul, membuat film ini terasa sedikit membosankan. Ditambah lagi dengan durasi 105 menit, membuat film terkesan berjalan lambat. Meskipun demikian, film ini syarat akan nilai kemanusiaan dan nilai sejarah. Gunawan, sebagai pemeran utama, akan membawa kita kembali mengingat kerusuhan pada rezim Orde Baru.

    Jika kalian penasaran dengan puisi-puisi yang ditulis Wiji Thukul, kalian bisa membacanya dari kumpulan puisi yang telah dibukukan dengan judul “Wiji Thukul”. Buku tersebut bisa kalian dapatkan di toku buku.

     

    Oleh: Yasinta Darin Firdaus

    Editor: Dina Fadillah