Featured

Kekerasan Seksual di Kampus, Kemana Harus Mengadu?

AksaraFeature, Bandung (24/04/2022) – Sebagaimana telah diatur dalam Permendikbud No. 30 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi, apabila terjadi kekerasan seksual di perguruan tinggi, maka perguruan tinggi wajib melakukan penanganan yang terdiri pendampingan, perlindungan, pengenaan sanksi administratif, dan pemulihan korban. Maka dari itu Telkom University sebagai perguruan tinggi sudah seharusnya tidak luput dari kewajiban tersebut.

Sebelum adanya Permendikbud No. 30 Tahun 2021, Tel-U sendiri melaksanakan peraturan tidak tertulis yang salah satunya mengatur bagaimana hubungan antara mahasiswa dan dosen yang akan terlibat dalam satu kegiatan yaitu belajar-mengajar. Namun, pada saat ini jarak usia antara dosen dan mahasiswa tidak terpaut jauh, bahkan ada yang berada dalam satu kelompok pergaulan. Oleh karena itu, adanya peraturan tertulis dalam Permendikbud No. 30 Tahun 2021, diharapkan semakin mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, akibat dekatnya hubungan antara dosen dan mahasiswa.

Berdasarkan Permendikbud No. 30 Tahun 2021, perguruan tinggi juga perlu membentuk Satuan Petugas (Satgas) untuk menampung dan menangani kasus kekerasan seksual di kampus. Sebelum adanya peraturan tersebut, Tel-U sendiri sebenarnya sudah memiliki satgas dengan nama Tel-U We Care. “Di Telkom University kalau dulu nya itu sebenernya secara struktural itu belum ada ya, tapi kalau sekarang itu sedang dibentuk satgas yang mengurusi hal tersebut.” Ucap Pramitha Aulia, Kepala Urusan Pengembangan Karakter dan Konseling Mahasiswa. Nantinya, satgas akan diisi oleh civitas akademika mulai dari rektor, dosen, profesional, hingga mahasiswa. Mahasiswa sendiri berperan sebagai orang yang paling dekat dengan korban baik dalam perilaku maupun lingkungan.

Tel-U We Care bukan hanya sebagai layanan yang menangani kasus yang tertera dalam Permendikbud No. 30 Tahun 2021, namun juga kasus-kasus lain yang dialami civitas akademika. Nantinya, satgas ini memiliki peran untuk melakukan pencegahan, pemberdayaan, dan pembinaan. Diantaranya, korban akan diberikan layanan konseling dan layanan advokasi.

Selain melalui satgas ini, mahasiswa sebenarnya sudah memiliki beberapa alternatif untuk melakukan pelaporan. Mahasiswa bisa melapor kepada dosen wali, yang nantinya dosen wali akan membantu melaporkan kepada ketua program studi lalu kepada dekan yang pada akhirnya diserahkan kepada kemahasiswaan yang akan menangani kasus tersebut. Tel-U juga memiliki beberapa hotline seperti hotline konseling melalui nomor 085222399981 dan hotline Halo Rektor melalui halorektor.telkomuniversity.ac.id, yang dapat digunakan untuk pengaduan kasus kekerasan seksual.

Akan tetapi, berdasarkan kasus kekerasan seksual yang pernah terjadi di kampus lain, seringkali mahasiswa tidak mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya, bahkan beberapa dari mereka diancam untuk dikeluarkan dari kampus. Membuat mahasiswa takut untuk buka suara apalagi melapor ke pihak kampus, hal inilah yang menjadi PR bagi Tel-U agar mahasiswa percaya untuk mengandalkan kampus sebagai tempat aduan. Menurut Pramitha Aulia, Telkom University sendiri  telah mengadakan webinar sosialisasi tentang Permendikbud No. 30 Tahun 2021 yang dihadiri 900 mahasiswa, hal tersebut diharapkan dapat membuat mahasiswa mengetahui bahwa kampus akan melindungi mahasiswa nya.

Meskipun demikian, tentunya diharapkan tidak ada civitas akademika termasuk mahasiswa yang mengalami kekerasan seksual. Serta dengan adanya Permendikbud No. 30 Tahun 2021, diharapkan Tel-U dapat menjadi perguruan tinggi yang aman akan kasus kekerasan seksual, diantaranya bisa menangani kasus kekerasan seksual dengan baik dan bijak tanpa memandang siapa korban dan siapa pelaku.

Penulis: Dimas Faudzan dan Tesyalonica Adriana Dewi

Editor: Adam Monhardi

Related Articles

Back to top button