Koleksi Ribuan Prangko Vintage dari 178 Negara di Museum Pos Indonesia

    0
    88

    AksaraFeature, Bandung (26/10/2019) – Kehidupan pada zaman perkembangan teknologi mengakibatkan surat-menyurat secara konvensional tidak lagi sepopuler dahulu. Kemudahan berkomunikasi menggunakan smartphone dan internet menjadi penyebab pergesaran tersebut. Padahal, surat-menyurat sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Indonesia sudah melakukan pengiriman surat melalui pos sudah dimulai sejak tahun 1602. Namun, sekarang peran pos semakin tidak dianggap adanya. Perkembangan surat sejak dahulu dari bentuk surat, amplop, hingga alat-alat relevan dipajang dalam Museum Pos Indonesia. Musium ini sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda, letaknya di Jalan Caliki nomor 72 Bandung, tepatnya di belakang kantor Pos Cilaki.   

    Museum Pos Indonesia didirikan pertama kali pada tahun 1931 dengan nama Pos Telepon dan Telegrap (PTT), bangunannya dirancang oleh J. Berger dan Leutdsgebouwdienst. Museum Pos Indonesia diresmikan pada 27 September 1983 yang bertepatan dengan Hari Bhakti Postel ke-38, peresmian dilakukan oleh Achmad Tahir yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Menparpostel). Museum PTT resmi berubah nama menjadi Museum Pos dan Giro, kemudian pada 20 Juni 1995 berganti lagi menjadi Museum Pos Indonesia. Ketika pertama kali didirikan, koleksi yang ada hanya berupa prangko baik dari dalam maupun luar negeri saja. Setelah itu, museum sempat tidak terawat. Pada tahun 1980, Perum Pos dan Giro membentuk panitia guna memperbaiki, merawat, dan menambah koleksi agar Museum terlihat lebih layak dikunjungi. Kini, koleksi yang dimiliki Museum Pos Indonesia sangat beragam, seperti :

    Terdapat ribuan koleksi prangko yang disimpan di dalam bilik-bilik dan buku berjilid. Prangko yang disimpan ini berasal dari dalam maupun luar negeri. Prangko yang berasal dari luar negeri tersebut dihadirkan dari 178 negara. 

    Peralatan yang berhubungan dengan perkembangan pos dari masa ke masa. Peralatan tersebut meliputi timbangan surat, karung surat, stempel surat, dan bis surat yang mana dulu digunakan sebagai sarana mengirim surat tanpa harus pergi ke kantor pos.

    Surat emas dari raja-raja yang saat itu sebagai alat komunikasi sederhana. Surat tersebut dari berbagai kerajaan seperti Mulawarman, Mataram, Purnawarma, dan yang lainnya. Huruf-huruf yang digunakan masih dalam bentuk huruf sanskerta.

    Selain itu, juga terdapat diorama yang menampilkan kegiatan dari Pak Pos yang berinteraksi dengan warga sekitar selagi mengantar surat. 

    Pada halaman depan Museum Pos Indonesia terdapat monumen yang disebut dengan Tugu Peringatan Pahlawan PTT. Monumen tersebut dibuat untuk mengenang jasa para pegawai PTT yang tewas dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 hingga 1949. Untuk masuk ke area museum, pengunjung harus menaiki tangga terlebih dahulu. Tepat di teras samping kiri sudah terlihat papan-papan yang memperlihatkan profil dari Mas Soeharto (Kepala PTT) dan R. Dijar (Wakil PTT). Setelah itu, pengunjung akan disuguhkan dengan tampilan prangko pertama Hindia Belanda Raja Willem III. Tampilan prangko tersebut dipajang cukup besar dengan warna menyerupai emas. Agar dapat memasuki area pameran museum, pengunjung harus menuruni tangga karena area pameran berada dibawah tanah. Pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk. Museum Pos Indonesia terbuka untuk umum setiap Senin-Jumat dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, hari Sabtu puku 09.00 hingga 13.00 WIB, tidak buka pada hari Minggu dan libur nasional.

    Dengan adanya Museum Pos Indonesia ini diharapkan generasi ke depan bisa tahu dan mempelajari perkembangan surat yang ada di Indonesia, mengingat kemajuan teknologi yang semakin mengikis dunia surat-menyurat. Museum juga menjadi sarana pembelajaran untuk menggali pengetahuan lebih luas lagi.

    Penulis: Nur Azizah Arini Putri

    Editor: Falaah Saputra Siregar