Kondisi Terkini Lombok Pasca Gempa

0
563
Sumber: google

AksaraNews, Bandung (23/10/2018) – Setelah dilanda gempa dengan magnitudo 7,0 SR pada Minggu (5/8), pukul 19.46 WITA, warga Lombok dan daerah sekitarnya yang terkena dampak mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Bantuan logistik serta bahan makanan dari luar daerah pun intens didistribusikan melalui bantuan para relawan, baik dari dalam, maupun luar daerah.

Namun, menurut penuturan seorang relawan, proses bantuan mengalami kendala distribusi. Hal ini karena jumlah bantuan tidak selaras dengan jumlah relawan dan mengakibatkan terjadinya penumpukan. Walaupun demikian, para relawan memastikan daerah-daerah di Lombok dan sekitarnya yang terkena dampak gempa mendapatkan subsidi serta bantuan bahan makanan dan logistik yang cukup.

Tak hanya relawan, ketanggapan pemerintah dalam membangkitkan salah satu daerah destinasi wisata tersebut dapat diacungi jempol. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Gempa Bumi di Lombok dan wilayah terdampak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Inpres diterbitkan dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi. Selain itu, Inpres ditujukan untuk pemulihan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sana. Inpres mulai berlaku pada 23 Agustus 2018.

Adapun isi Inpres tersebut, “Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana berupa fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas agama, dan fasilitas penunjang perekonomian agar aktivitas bisa berfungsi kembali diselesaikan paling lambat pada akhir bulan Desember 2018, dan sarana lain diselesaikan paling lambat Desember 2019.”

Sembari menunggu pemulihan dan rehabilitasi yang dilakukan secara berkala, masyarakat Lombok dan sekitar masih memanfaatkan bantuan logistik yang telah didistribusikan oleh relawan dan pemerintah. Sebagai salah satu contoh yaitu pemanfaatan tenda sebagai pengganti ruang kelas yang tidak layak huni akibat gempa.

Sementara dari segi kesehatan, Kemenkes telah mengerahkan upayanya bagi kesehatan korban bencana gempa. Tidak hanya pada saat kejadian gempa, upaya tersebut juga dilakukan pascagempa untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit dari lingkungan.

Pemerintah pun telah menyediakan pusat trauma healing untuk para korban selamat di pengungsian. Tidak hanya dari pemerintah, para relawan gabungan mahasiswa juga turut memberikan sosialisasi serta trauma healing bagi anak-anak korban gempa di pengungsian.

“Intinya, kami di NTB sekarang lagi dalam masa pemulihan dan yang paling dibutuhkan terutama untuk anak-anak adalah trauma healing,” tutur Arif Wicaksono, salah satu mahasiswa di Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram.

Arif berharap kesehatan serta psikis warga terdampak gempa dapat terjaga dan kembali pulih. Sehingga bantuan bisa lebih fokus pada pembenahan infrastruktur, pendidikan, dan tempat tinggal.

 

Penulis: Erni Lutfiani Dewi

Editor: Fidya Rahmawanti