Mengenal Lebih Jauh Depresi, Penyakit Mental yang Paling Banyak Dialami Mahasiswa

    0
    419
    Sumber gambar: google

    AksaraFeature, Bandung (24/7/2018) – Permasalahan kesehatan mental masih menjadi permasalahan kesehatan yang banyak terjadi di dunia, termasuk Indonesia. Kesehatan mental yang sebenarnya sama pentingnya dengan kesehatan fisik, masih sering terabaikan dan belum menjadi fokus permasalahan yang harus diperhatikan bagi sebagian orang. Padahal seseorang bisa dikatakan sehat apabila kondisi fisik dan psikisnya sehat. Jika salah satunya tidak sehat, maka seseorang itu bisa dianggap sakit.

    Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan mental adalah sebuah keadaan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbagai tekanan dalam kehidupan, dan dapat bekerja secara produktif yang berimbas pada kemampuan dirinya dalam memberikan kontribusi pada lingkungan sekitar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental merupakan dasar untuk berpikir, berkomunikasi, bersosialisasi, dan bertahan dalam hidup. Sebaliknya, orang yang memiliki penyakit mental atau mental illness, adalah mereka yang kesulitan dalam mengenali keadaan diri sendiri, serta mengalami perubahan signifikan dalam emosi, berpikir, dan berperilaku yang dapat mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari.

    Depresi merupakan satu dari sekian banyak penyakit mental yang ada. WHO menyebutkan bahwa depresi merupakan penyebab utama masalah kesehatan dan ketidakmampuan di seluruh dunia. Diperkirakan ada sekitar 300 juta orang menderita penyakit mental ini. Depresi sendiri menurut APA (American Psychiatric Association) merupakan penyakit medis umum dan serius yang memengaruhi secara negatif perasaan, pikiran, dan perilaku seseorang. Depresi juga menyebabkan perasaan sedih dan hilangnya minat dalam menjalani kegiatan sehari-hari.

    Hasil penelitian National College Health Assessment tahun 2014 menunjukkan bahwa sebanyak 33% mahasiswa mengalami depresi. Ketua PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) Dr. Eka Viora, juga mengatakan hal serupa, bahwa 50% dari kasus depresi di dunia terjadi pada usia produktif, yaitu 20-50 tahun.

    Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa depresi banyak menyerang orang-orang yang memasuki usia produktif seperti mahasiswa.  Beberapa faktor yang berperan dalam depresi adalah faktor genetika, biologis, lingkungan, dan psikologis. Semakin tingginya persaingan di dunia kerja juga menjadi salah satu alasan munculnya depresi pada remaja, khususnya mahasiswa. Mahasiswa jadi memiliki tekanan untuk harus memiliki nilai sempurna agar tidak mengecewakan orang tua.

    Depresi merupakan sebuah penyakit yang bisa disembuhkan, yang bisa terjadi pada siapa saja, seperti halnya penyakit jantung atau diabetes. Orang yang tinggal dalam lingkungan yang sehat pun masih bisa terkena depresi. Ada gejala-gejala yang bisa menandakan bahwa kamu mungkin mengalami depresi. Menurut National Institute of Mental Health, jika kamu mengalami gejala-gejala di bawah ini hampir setiap hari selama lebih dari dua minggu, maka kamu kemungkinan menderita depresi:

    • Memiliki suasana hati sedih, cemas, atau “kosong” secara terus-menerus
    • Merasa putus asa atau pesimis
    • Merasa bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
    • Hilangnya ketertarikan dalam melakukan aktivitas atau hobi
    • Mudah lelah
    • Bergerak dan berbicara menjadi lebih lambat
    • Merasa gelisah atau sulit duduk diam
    • Sulit tidur, bangun pagi, atau tidur secara berlebihan
    • Nafsu makan berkurang dan turunnya berat badan
    • Berpikiran untuk melakukan percobaan bunuh diri

    Meskipun begitu, tidak setiap orang yang depresi mengalami semua gejala di atas. Beberapa orang mungkin mengalami banyak gejala, beberapa mungkin hanya mengalami sedikit. Ada juga kondisi medis yang memiliki gejala yang sama dengan gejala depresi, misalnya tiroid, tumor otak, atau defisiensi vitamin, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan serius.

    Namun nyatanya, masih banyak orang yang belum tahu harus melakukan apa ketika mereka merasa mengalami depresi. Informasi mengenai akses layanan kesehatan mental yang masih belum tersebar secara luas, serta stigma buruk yang diciptakan masyarakat terhadap penderita penyakit mental, membuat para penderita depresi hanya bisa menyimpan sendiri apa yang mereka rasakan. Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan jika kamu merasa mengalami depresi, yaitu:

    1. Cari teman berbagi

    Jika kamu takut untuk pergi ke psikolog, kamu bisa mencari teman berbicara yang kamu percaya untuk menceritakan masalah yang kamu miliki. Kebanyakan penderita depresi merasa bahwa mereka sendirian dalam menghadapi masalah yang mereka miliki. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memiliki teman berbagi, seseorang yang bisa mendengarkan dan memahami masalah yang kamu miliki.

    1. Rajin berolahraga

    Depresi tidak jarang membuat kamu merasa sebagai sosok yang tidak berguna dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan berolahraga kamu bisa merasakan keberhasilan dalam sebuah pencapaian. Keringat yang dihasilkan saat berolahraga merupakan bukti bahwa kamu bisa melakukan sesuatu.

    1. Atur pola makan

    Depresi bisa membuat kamu jarang makan atau bahkan terlalu sering makan. Mengatur pola makan sangat penting karena bisa mengembalikan fungsi tubuh seperti sedia kala. Kandungan yang ada di dalam makanan yang sehat juga bisa mengembalikan fungsi bagian-bagian otak yang rusak karena depresi.

    1. Istirahat secara teratur.

    Pola tidur yang berantakan akibat stress dan depresi membuat kinerja otak menurun. Tidur 6-8 jam perhari bisa membuat otak kembali segar dan lebih produktif.

    1. Mencari layanan konsultasi psikolog

    Jika cara-cara di atas masih belum bisa mengurangi depresimu, maka kamu bisa mengunjungi psikolog untuk pengobatan yang lebih tepat. Psikolog dapat membantu kamu menemukan akar dari permasalahan yang kamu alami, sehingga depresimu bisa cepat terobati.

    Selain menemui psikolog, terdapat juga komunitas yang peduli terhadap penderita penyakit mental di Indonesia. Komunitas-komunitas ini bersedia untuk mendengarkan keluh kesah dan membantu kamu untuk kembali menjadi sehat. Berikut beberapa daftar komunitasnya:

    • Into The Light, merupakan komunitas yang berfokus pada upaya pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa remaja. Kamu bisa menghubungi mereka melalui:

    Email: intothelight.email@gmail.com

    Website: https:/intothelight.wordpress.com/

    • Get Happy, merupakan komunitas yang memberikan informasi dan dukungan mengenai depresi dan kesehatan mental. Kamu bisa menghubungi mereka melalui:

    Email: get.happy.yuk@gmail.com

    Website: http:/www.get-happy.org/

    • I Smile 4 You, merupakan kampanye yang dibuat untuk menebarkan senyum. Kampanye ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan bunuh diri dan kepedulian akan kesehatan mental. Kamu bisa mengikuti kampanye-kampanyenya melalui:

    Website: ismile4you.org

    Instagram: @ismile4you_org

    • Depression Warriors Indonesia, merupakan komunitas kesehatan mental yang dibuat dengan tujuan untuk membuang stigma buruk masyarakat mengenai depresi. Kamu bisa menghubungi mereka melalui:

    Instagram: @depressionwarriors_id

    Depresi dan penyakit mental lainnya merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Gejala dan tanda-tandanya tidak selalu terlihat dengan jelas. Penyakit mental juga bukanlah penyakit menular yang tidak bisa disembuhkan. Selain pengobatan yang sesuai, bantuan dari orang-orang sekitar juga akan sangat membantu penderita penyakit mental untuk kembali ke kondisi sehat. Jangan ragu untuk bertanya dan meminta bantuan jika kamu atau orang-orang terdekatmu merasa kesulitan dalam menghadapi masalah kesahatan mental. It’s okay to seek help!

     

    Penulis: Annisa Nisrina