Menilik Kemenangan Kecil Warga Tamansari, ditengah Gempita Perjuangan

0
439

AksaraNews, Bandung (9/11/2018) – Aksi massa oleh warga RW 11 Tamansari beserta kawan-kawan solidaritas pada 1 November lalu memberikan angin segar ditengah pengapnya perjuangan. Pelaksanaan aksi massa dalam rangka menjemput keadilan setelah 4 bulan menunggu jawaban dari pihak BPN (Badan Pertanahan Nasional), ternyata memberikan hasil surat pemblokiran sertifikasi atas tanah RW 11 Tamansari oleh BPN yang dilayangkan Pemkot Bandung pada bulan April lalu. Hal ini disampaikan lewat konferensi pers yang diadakan kemarin (7/11).

Sesuai dengan ketentuan pasal 4 ayat (1) peraturan Menteri Negara Agraria nomor 9 tahun 1999 tentang tata cara pemberian dan pembatalan hak atas tanah negara dan hak pengelolaan, sehingga dalam situasi konflik, tanah yang bersengketa tidak boleh ada proses administrasi atau pendaftaran maupun sertifikasi yang berjalan didalamnya.

Warga RW 11 Tamansari yang mengaku telah menempati tanah sejak tahun 1949 tersebut bukan tidak pernah mengupayakan sertifikasi tanah sebelumnya. Melainkan sejak tahun 1980 warga telah mengupayakan sertifikasi tanah namun pihak pemerintah selalu menunda dengan alasan akan dibangunnya proyek. “Bapak saya yang dulu juga salah satu RT disini pernah mengupayakan sertifikasi pada tahun 1980 namun selalu ditunda dengan alasan salah satu syarat surat sertifikasi yang tidak jelas mengenai surat Letter C. Pada saat itu ada proyek pembangunan Baltos (Balubur Town Square) yang dulunya itu RTH (Ruang Terbuka Hijau) dan juga ada pembangunan jalan layang pasupati.” Ungkap Eva, salah satu warga RW 11 Tamansari.

Minimnya sosialisasi dari pemerintah mengenai sertifikasi tanah kepemilikan warga, juga menjadi salah satu penyebab warga belum mensertifikatkan tanah miliknya. Program terbaru pemerintah yakni PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) dilaksanakan dengan menyusuri seluruh kawasan Kota Bandung. Namun menurut pengakuan salah satu warga, pihak dari program PTSL tidak menyusuri RW 11 Tamansari padahal PTSL mencakupi seluruh wilayah Tamansari.

Setelah melewati panasnya perjuangan SP3 yang diajukan pemkot kepada warga untuk segera mengosongkan lahan pada Agustus lalu (24/8), salah satu benih perlawanan membuahkan hasil manis. Untuk sementara warga dapat bernafas dengan lega, namun tak lantas membuat mereka tidak melanjutkan perjuangan yang belum usai.

Perjuangan solidaritas warga RW 11 Tamansari yang tersisa turut didampingi oleh ARAP (Aliansi Rakyat Anti Penggusuran) serta LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Bandung akan terus berlanjut hingga warga mendapatkan haknya. Konferensi pers ditutup dengan warga yang berharap perjuangan solidaritas ini dapat menjadi contoh bagi rakyat di tempat lain yang bernasib sama untuk tidak berhenti memperjuangkan hak hidupnya.

 

Penulis : Putu Santy 

Editor : Milati Hanifah