Metamorfosis

0
500

Sebuah Tulisan Untuk Aksara

Karya: Fauzi Al Aziz

Seorang pemuda kadang berjalan tanpa memilih langkah, kadang hanya berbekal rasa penasaran dan ingin tahu. Dan hanya saat ia sampai ke tujuanlah ia mengerti bahwa apa yang tak pernah ia pilih adalah pilihannya yang terbaik. Bocah gundul yang waktu itu memakai kemeja batik warna hijau giok, sepulang kuliah tak mandi dan peluhnya lengket di sekujur badan. Saat pintu terbuka lebar tak ada siapa pun tahu isi kepalanya. Ia kuras dan curahkan penuh perhatiannya sepanjang acara, sampai sepulang dari sana yang tersisa dalam jiwanya hanya sebuah dua buah mimpi. Harap-harap yang terbang polos tak punya dosa.

Aksara terpampang di tiang, gemetar bocah itu taruh formulir ditempeli foto wajahnya empat kali tiga. Tekatnya tak lagi kotak atau segi lima sebab ternyata tak pernah ia habiskan waktu panjang untuk berpikir lalu memilih. Sampai ia pulang dengan hati yang lapang, meski harapnya berceceran sepanjang jalan. Membentang dan menjelma jalan yang mengikatnya untuk setia datang kembali menghadapi pintu hitam yang sama, menghadapi Aksara yang sama.

Jika aku menulis saat hati tak meringis memang kadang terasa surealis. Tak jelas dan melompat-lompat. Namun biar aku ceritakan ini pelan-pelan. Bocah gundul itu adalah aku. Dan pahit manis ber-Aksara kadang memang terasa menjebak seumpama lubang undur-undur di pasir. Namun, tak pernah ingin benar kutinggalkan ia barang semalam. Pesonanya selalu hadir di saat seperti ini.

Tadi malam kami baru saja Open Mind. Mengingat-ingat momen dua tahun silam, merintis kemudian menata. Hingga kini Aksara berada di pangkuan kami. Aku percaya setiap generasi punya cerita. Yang muda datang membawa pilihan dan terkaan. Kadang hadir bersama langkah penuh canggung dan malu-malu, tak begitu tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Hingga masa-masa Jurnalis Muda mungkin masih akan ada yang menanyakan pilihan, meski kenyataannya sudah pernah diyakin-yakinkan suatu kali, di suatu masa akan diyakin-yakinkan lagi. Yang tak tahan akan meluapkan jenuhnya, yang cerdik akan seperti Avatar yang membuka ngarainya. Mengalirkan segalanya, lalu bertahan.

Yang akan jadi kakak masih penuh mimpi. Tekat-tekat yang baru saja menumbuhkan kuncup muda. Ada kebahagiaan menatap dua MC andalan bercakap-cakap di depan. Ingin kupeluk pula semua kepala departement yang ada. Menatap kalian bergestur cerdas dan pandai bicara sekali waktu membuatku menghela, mengapa kalian begitu luar biasa. Terima kasih telah menerbitkan senyum di muka. Bahkan di saat kesibukan makin padat. Hari-hari terasa bencana yang kita harus selamat darinya. Terima kasih telah menyisihkan waktunya yang berharga. Namun membaca ini jangan membuat kalian merasa di atas angin. Masih banyak perkerjaan yang harus diselesaikan. Masih banyak masalah yang akan datang dan harus dipecehkan.

Siapa mengerti isi hati seseorang. Barang kali di antara kalian ada yang menyepi menahan sakit hati. Ada yang tak menikmati lelah dan tak pula mensyukuri keceriaan kawan. Kadang merasa sendiri di antara keramaian. Kalian pasti bisa menjangkau sisi-sisi itu. Mengayomi. Aku yakin kalian bisa lebih baik dari generasi kami. Sebab aku ingin kita berdiskusi tak hanya soal program kerja, tapi juga berkeluh soal kuliah atau kiat-kiat kekeluargaan. Maka akan aku bagi kesah-kisah kegagalan masa silam sebagai catatan, ke arah mana kalian seharusnya tak melangkah.

SHARE
Previous articlePODIUM Edisi 6: Dibalik Layar
Next articleRasa Mint