Metropolitan Jakarta di Keluguan Anak Lapangan

    0
    147

    AksaraFeature, Bali (26/10/2019) – Ketika kita masih kanak-kanak, bagaimana dunia yang kita lihat dan seberapa berbedakah dengan apa yang kita lihat sekarang? Burung-Burung Kecil adalah sebuah novel tentang anak-anak lapangan yang hidup di gaduhnya metropolis Jakarta. Dari sudut pandang Eges, kita diajak berlari mengelilingi lampu merah, bersantai di rel kereta, memetik buah tetangga, dan tersenyum dalam pelukan ibu.

    Novel karya Kembangmanggis mendapatkan Penghargaan Adikarya dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 2003. Cetakan kedua memiliki 120 halaman yang terasa sangat singkat karena jarak antar paragraf yang cukup lenggang, tetapi hal tersebut membuat tiap bab sangat mudah dibaca.


    Kesan pertama membaca Burung-Burung Kecil cukup mengejutkan. Alignment paragraf yang digunakan di buku adalah rata kiri, tidak biasa alignment seperti itu ditemukan dalam novel. Karena itu, penulis berpikir bahwa seluruh narasi akan disampaikan seperti prosa atau puisi (cerita), tetapi tidak. Walaupun banyak bagian yang ditulis berima, hal tersebut bukan dilakukan untuk memberikan kesan aestetik atau melankolis milik puisi kebanyakan, tetapi kesan sederhana dan berputar-putar layaknya cara berpikir anak kecil.

    Semua mudah dipahami, anak kecil pun bakal paham, karena narasi itu sendiri berupa runtutan berpikir sederhana. Dari titik pertama, lalu ke titik kedua, lalu ke titik ketiga, narasi tidak pernah meninggalkan pembaca dengan pertanyaan tentang hidup atau misteri yang dramatis. Jika di akhir paragraf sang anak bingung, maka paragraf akan berakhir dengan pertanyaan, jika tidak, berarti berakhir dengan pernyataan.

    Kehidupan anak-anak itu dikemas tidak dalam nada yang menyedihkan, penuh kejahatan, atau dalam tekanan meskipun kisah yang diceritakan adalah kisah anak lapangan (anak-anak yang tinggal di jalanan) kota besar. Semua tertulis apa adanya, tidak memaksa pembaca memilih mana yang benar dan mana yang salah, kecuali ada Ibu. Semua takut sama Ibu, sayang sama Ibu, maka dari itu semua akan jadi anak baik di depan Ibu.


    Karena fokus memberitahu keseharian anak-anak lapangan, buku ini tidak memiliki alur utama. Tidak menceritakan perjalanan Eges yang rajin menabung dan menjadi orang sukses, tetapi secara runtut menunjukkan kesehariannya. Pembaca dapat melihat keasikan dan keluguan mereka, terlebih lagi Eges adalah anak yang liar dan pergi kesana-kemari, walau seketika menjadi kakak panutan di Pangkalan Asem, rumah Ibu, Eges, dan anak-anak lainnya.


    Sesungguhnya cerita yang diberikan tidaklah unik dan mengejutkan. Kita semua pasti tahu atau pernah melihatnya. Hanya saja kita terkadang melebih-lebihkan beberapa bagian atau bisa jadi menganggap remeh hal tersebut. Itu yang dirasakan penulis ketika membaca buku ini.

    Penulis: Dewa Made Surya

    Editor: Falaah Saputra Siregar