Ngarot, Tradisi Penuh Kerukunan Masyarakat Lelea Saat Musim Tanam

    0
    284

    AksaraFeature, Bandung (23/06/2019) – Kekayaan budaya di Indonesia banyak tersebar dari Sabang hingga Marauke, salah satunya adalah Ngarot. Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui tentang Ngarot. Ngarot merupakan upacara adat yang terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu. Berasal dari Bahasa Sunda, Ngarot merupakan semacam istilah minum/ngaleueut, adapun Bahasa Sansakerta “ngaruat” yang artinya bebas dari kutukan dewa.

    Ngarot dilaksanakan setahun sekali menjelang musim tanam padi. Biasanya dilaksanakan di hari Rabu pada bulan Desember karena dianggap hari yang keramat. Tujuan dilaksanakan Ngarot adalah untuk menyampaikan rasa syukur terhadap datangnya musim tanam. Ngarot dirayakan oleh masyarakat Lelea dari berbagai kalangan, tetapi didominasi Kasinoman (pemuda-pemudi) untuk mengikuti arak-arakan. Tujuannya agar para pemuda dan pemudi selalu ikut gotong royong dalam mengolah sawah. Selain itu, bertujuan untuk membina pergaulan yang sehat, saling mengenal, saling menyesuaikan sikap, kehendak, dan tingkah laku yang sesuai dengan adat dan budaya.

    Untuk pelaksanaanya, Ngarot dimulai pukul 08.30 dan semua pesertanya sudah berkumpul di kediaman kepala desa. Mengenakan pakaian kebaya dengan berbagai macam bunga di kepala bagi pemudi dan baju komboran bagi pemuda. Kemudian, para peserta diarak mengelilingi desa diiringi musik khas Indramayu. Setelah mengelilingi desa, para peserta masuk ke balai desa dan disambut dengan Tari Topeng Ketuk Ketuk Tilu. Selanjutnya, prosesi dimulai dengan pembukaan, pembacaan sejarah Ngarot, sambutan kepala desa, dan prosesi penyerahan kepada para Kasinoman. Prosesi penyerahan dilaksanakan Kuwu (kepala desa) dengan menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya agar benih ditanam dan disebar. Kemudian, Ibu Kuwu atau istri dari kepala desa menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya adalah untuk mengobati padi yang telah ditanam sebagai lambang pengairan. Disusul dengan tetua desa menyerahkan pupuk, maksudnya adalah agar tanaman tetap subur. Raksa bumi menyerahkan alat pertanian, dimaksudkan untuk mengolah pertanian dengan baik. Terakhir, Lebe yaitu sebutan tokoh agama di Indramayu, menyerahkan sebatang bambu kuning, daun androing, dan daun pisang yang akan ditancapkan di sawah, maksudnya adalah agar padi terhindar dari serangan hama.

    Semua tradisi, adat, dan budaya memiliki tujuan yang baik. Sebaiknya, tradisi dijaga dan terus dilestarikan agar Indonesia tetap menjadi negara yang memiliki banyak ragam budaya dan bukan dikenal hingga ke mancanegara.

    Penulis : Indi Annisa Qotrunada

    Editor : Faalah Saputra Siregar