“Nobar” G30S/PKI, Diantara Pembelokan dan Titik Terang

0
500
Suasana tegang yang tercipta saat acara nonton bareng film dengan judul “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Adapun pemutaran sendiri dilaksanakan pada tanggal 29 dan 30 September 2017, di Gedung Serbaguna (GSG) Telkom University dan dihadiri sekitar 500 Mahasiswa.

AksaraNews, Bandung (30/9/2017) – Dalam memperingati 52 tahun terjadinya peristiwa bersejarah, G30S/PKI, Telkom University menyelenggarakan nonton bareng (Nobar) film fenomenal dengan judul “Pengkhianatan G30S/PKI”. Dalam suasana yang gelap dan cukup tegang, film karya Arifin C. Noer tersebut diputar pada tanggal 29 dan 30 September 2017, di Gedung Serbaguna (GSG) Telkom University, dihadiri sekitar 500 Mahasiswa, Bapak Dr. M. Yahya Arwiyah (Wakil Rektor IV), perwakilan dari PPDU (Program Perkuliahan Dasar dan Umum), dan beberapa anggota TNI Angkatan Darat untuk memberikan seminar singkat dan pandangan terhadap isi dan unsur sejarah pada film tersebut.

“Untuk pemutaran film ini, sama sekali tidak ada kaitannya dengan pihak luar,” menurut penjelasan Ibu Endang Budiasih, M.T., selaku Manajer dari PPDU. Pemutaran film tersebut sejatinya bertujuan untuk membuka mata mahasiswa tentang sejarah Negara Indonesia dan mencegah bahaya berkembangnya ideologi komunis yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. “Harusnya mahasiswa lebih berpikir kritis dan tahu sejarah, karena banyak sekali sejarah yang telah dibelokkan dan dipelesetkan. Membicarakan ideologi, berarti membicarakan sesuatu yang bersifat jangka panjang. Generasi calon pemimpin harus tahu, mana ideologi yang benar dan mana yang keliru. Intinya, jangan mengambil langkah yang salah karena tidak mengetahui persoalan dan sejarah dengan baik,” beliau menambahkan.

Adapun mengenai isu yang beredar di masyarakat, bahwa konten dalam film itu belum akurat dan pemutarannya dianggap pembelokan terhadap kebenaran sejarah, namun Pak Yahya menjelaskan bahwa pemutaran film tersebut adalah dengan maksud baik, “Kami ingin memberikan pemahaman karakter nasional dan pembinaan karakter Bangsa Indonesia.” Beliau juga berpendapat bahwa film tersebut sudah akurat dan tidak ada rekayasa.

Menurutnya, kita harus berhati-hati dengan upaya bangkitnya ideologi komunis yang terselubung, terutama di wilayah Telkom University. “Misalnya dengan menggemborkan bahwa PKI sudah mati. Padahal di kampus kita sendiri masih ada ditemukan gerakan yang berbagi, menganalisis, mengaji, dan mengembangkan ajaran komunis, terlebih lagi gerakan tersebut mengatasnamakan kegiatan peduli literasi.” Ia juga menjelaskan bahwa penayangan film tersebut kental sekali hubungannya dengan kasus skorsing beberapa mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Bisnis (FKB) pada awal tahun ini. “Jadi kita cegah.” tegas Pak Yahya.

Beberapa mahasiswa yang telah menonton film tersebut berpendapat, “Agar kami lebih mengetahui sejarah. Harapan saya adalah agar partai sejenis tersebut tidak muncul lagi. Kita harus belajar dari sejarah,” kata Abdurahman Fatin, mahasiswa Teknologi Informasi angkatan 2017. Solusi datang dari Raka, mahasiswa D3 Teknik Informatika angkatan 2016, “Saya jadi lebih tahu bagaimana cerita aslinya, walaupun di sekolah dipelajari, tapi tidak sedetail itu. Kita harus lebih menghargai perjuangan para pahlawan kita. Kita harus mengingat kepada Undang-Undang, dan Pancasila bukan komunis.” (YOC/MHA)