Opini

Pelaksanaan Kampus Hybrid di Telkom University

AksaraNews, Bandung (08/12/2021) – Dunia pendidikan mengalami transformasi media pembelajaran yang semula dengan metode luring menjadi metode daring. Pembelajaran daring sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun sejak Covid-19 pertama kali mewabah di Indonesia. Seiring membaiknya kondisi sosial masyarakat akibat penurunan kasus Covid-19 sekarang, perkuliahan hybrid mulai dirancang dan mulai diterapkan di beberapa perguruan tinggi. Telkom University menjadi salah satu perguruan tinggi yang mulai menerapkan perkuliahan hybrid. Program studi pertama yang menerapkan perkuliahan hybrid tersebut adalah D3 Perhotelan sejak Oktober 2021.

Program studi D3 Perhotelan dinilai memerlukan metode pembelajaran hybrid karena banyaknya praktikum yang harus dilakukan secara langsung atau tatap muka. Istefa, mahasiswi D3 Perhotelan angkatan 2020, berpendapat bahwa apabila pembelajaran dilangsungkan secara daring sepenuhnya, dikhawatirkan mutu yang kurang bagi mahasiswa ketika sudah lulus nanti.  ‘’Ditambah lagi, ada beberapa mata kuliah yang diharuskan untuk praktik, yaitu mata kuliah Front Office, FnB Service, dan lain-lain,’’ lanjutnya.

Perkuliahan hybrid dilakukan menggunakan metode shifting yang dibagi menjadi dua sesi sesuai urutan absen ganjil atau genap. Syarat yang dibutuhkan untuk mengikuti perkuliahan hybrid yaitu diperlukan surat pernyataan dari program studi beserta bukti sudah vaksin dan menaati protokol kesehatan yang ketat agar tidak terjadi penularan virus Covid-19. Apabila ada mahasiswa yang kurang sehat, maka mahasiswa tersebut diharuskan kuliah secara daring.

Menurut salah satu mahasiswi S1 Teknik telekomunikasi, angkatan 2019, Thalita, berpandangan bahwa perkuliahan hybrid ini bisa sekaligus menjadi solusi bagi para mahasiswa dan mahasiswi angkatan 2020 untuk dapat mengenal lingkungan Telkom University. ‘’Aku ga ikut kampus hybrid karena untuk jurusanku, hanya angkatan 2020 yang boleh ikut. Kampus hybrid ini juga bisa jadi solusi terbaik terutama bagi angkatan 2020. Diharapkan mereka bisa jadi lebih mengenal dan melakukan pembiasaan dengan (lingkungan) kampus.’’ Ujar Thalita.

Terlepas dari keuntungan yang didapatkan, pada kenyataannya perkuliahan hybrid masih mengalami berbagai kendala. Salah satu kendala yang terjadi adalah tidak konsistennya membagi jadwal dan jadwal yang sering berubah-ubah. Hal ini diakibatkan para akademisi masih melakukan perencanaan agar kuliah hybrid tidak menimbulkan kerumunan.

Walaupun masih ada banyak kendala dalam proses pelaksanaannya, perkuliahan hybrid ini diharapkan dapat memberikan motivasi serta semangat belajar kepada para mahasiswa yang berpartisipasi mengikutinya. 

Penulis: Charissa Zahra & Fadila Amalya

Editor: Yudinda Gilang Pramudya

Related Articles

Back to top button