Pembayaran BPP Menuai Pro-Kontra Mahasiswa

0
274

AksaraNews, Bandung ( 6/07/2020 ) – Biaya Penyelenggaraan Pendidikan ( BPP ) yang dibayarkan oleh mahasiswa pada semester ganjil ini menuai berbagai pro dan kontra. Para mahasiswa meminta agar pihak kampus memberikan potongan BPP sebesar 50% yang diserukan melalui tagar #AliansiMahasiswaTelkom. Tagar ini sempat menjadi trending topic di Twitter untuk beberapa saat. Tagar ini diserukan untuk menyampaikan aspirasi kepada pihak kampus.

Seperti yang diungkapkan oleh Habibullah, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) 2017. Dia menyebutkan perlu adanya keringanan pembayaran BPP, “saya sangat berharap adanya keringanan perihal pembayaran.”

Dia berharap ada pemotongan karena tidak semua fasilitas kampus dapat digunakan saat menjalankan perkuliahan secara daring, “pribadi saya sangat berharap adanya pemotongan 50% BPP, karena yang saya lihat untuk kuliah full daring sangat tidak relevan kalau masih memungut full BPP.”

Lain hal dengan Dzulfikar, mahasiswa Teknik Telekomunikasi 2018, ia menyebutkan bahwa apabila pihak Telkom University tidak memberikan tanggapan mengenai pemotongan BPP ini, harus ada transparansi dana yang digunakan. “Harus ada transparansi (dana) untuk lebih jelas gitu, uang atau dana yang diberikan mahasiswa itu akan dipakai apa dan kemana saja (dana itu digunakan).”

Berbeda dengan Fauzi Hazim, mahasiswa Informatika 2019, dia menyebutkan tidak perlu adanya transparansi. “Tidak, karena apabila ada transparansi penggunaan biaya, maka akan timbul berita-berita tidak mengenakkan yang akan berdampak pada nama atau citra (Telkom University) menjadi buruk.”

Tagar #AliansiMahasiswaTelkom yang sempat menjadi trending topic di jagat Twitter, merupakan sebuah sindiran sosial dan aspirasi para mahasiswa agar pihak kampus dapat merealisasikan desakan mereka. “Bila adanya tagar itu mungkin bisa membuat Telkom menjadi luluh dan bisa menggubris dan mengaminkan permintaan mahasiswa,” ucap Dzulfikar.

Namun, ada hal buruk dari trending-nya tagar tersebut, yaitu berpotensi mencemarkan nama baik Telkom University secara tidak langsung. “Di sisi lain menjadikan citra kampus kita menjadi buruk. Karena di balik nama besarnya, ternyata terdapat hal-hal yang tidak mengenakkan di dalamnya,” ujar Fauzi.

Penulis : Yudinda Gilang Pramudya

Editor : Iqbal Abdul Ra’uf