Pendapat Mahasiswa Mengenai Penyelenggaraan Tes CPNS

0
256

AksaraNews, Bandung (22/2/2020) – Tahun ini Telkom University (Tel-U) kembali dipercaya menjadi tempat penyelenggaraan agenda tahunan pemerintah, yaitu Tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Acara ini diikuti oleh peserta dari 11 kabupaten di Jawa Barat. Estimasi sebanyak 70.000 peserta akan mengikuti tes ini, dibagi menjadi 5.000 peserta perharinya. Tes CPNS dilaksanakan dari tanggal 6 hingga 26 Februari 2020, dibagi dalam dua tempat yaitu di Telkom University Convention Hall (TUCH) dan Gedung Serba Guna (GSG).

Agenda ini kerap menjadi bahan perbincangan mahasiswa Tel-U. Mahasiswa secara langsung dapat merasakan dampak dari kegiatan Tes CPNS. Sakinah Asrat, salah satu mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi angkatan 2018 menyayangkan tindakan peserta tes CPNS yang masih membuang sampah dan merokok sembarangan. “Kurang ngapresiasi Telkom, maksudnya gak menghargai Telkom dengan cara buang sampah sembarangan. Terus juga merokok di lingkuangan (kampus). Seharusnya lingkungan kampus gak dijadiin tempat merokok,” ujar Sakinah. Pernyataan serupa juga dilontarkan Bayu Tirtanata mahasiswa S1 Teknik Elektro angakatan 2017, “Banyak puntung rokok yang berserakan. Walaupun banyak tulisan area dilarang merokok, tetapi pendatang tes CPNS itu tetap tidak menggubrisnya,” ujar Bayu. 

Selain itu, Tel-U padat dengan pengunjung yang ikut mengantar peserta tes. Banyak pengunjung kampus tersebut yang melanggar berbagai peraturan yang berlaku. “Daerah-daerah yang harusnya dilarang didudukin seperti rumput-rumput dijadiin tenda. Telkom kan tempat kuliah, jadi kaya yang perlu-perlu aja yang datang,” terangnya. Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Dinnur, salah satu mahasiswa Desain Komunikasi Visual angkatan 2017. “ Kadang terlihat orang tua juga gelar karpet, kaya piknik gitu ya. Ya sebenernya kurang baik juga si, bisa menambah sampah di Telyu,” tuturnya.

Lahan parkir dinilai sebagai permasalahan lainnya yang ditimbulkan oleh pengadaan Tes CPNS di Tel-U. Mahasiswa merasakan kesukaran dalam mencari lahan parkir kosong. Gilang Fauzan, mahasiswa jurusan MBTI (Manajemen Bisnis Teknologi Informasi) angkatan 2019 memberikan tanggapan, “Mahasiswa tuh juga butuh parkir, dia itu satu yang tes tapi sepuluh orang yang datang. Mobilnya lebih dari satu biasanya.” Ia juga menambahkan “Ada yang memakai mobil. Dia kuliah dikampus depan (kampus non-teknik), tapi parkirnya di kampus belakang (kampus teknik), nah itu memakan waktu yang banyak, kadang ada yang telat,” ujar Fauzan.

Penulis : Widiana Salasa Nur Rahmah

Editor: Falaah Saputra Siregar