Opini

Pendapat Mahasiswa Telkom University sebagai Bagian dari Kampus Berperingkat Nasional dan Internasional

AksaraNews, Bandung (28/05/2022) – Urusan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia telah dikenal sejak lama. Dalam urusan memilih perguruan tinggi, seringkali nominal dalam pemeringkatan tersebut menjadi rujukan terbaik bagi para calon mahasiswa baru. Tanpa disadari, urusan pemeringkatan ini telah menjadi warisan feodal sejak dulu yang berlangsung di Indonesia. Mulai dari peringkat siswa dengan nilai tertinggi sampai dengan peringkat sekolah terfavorit telah menjadi budaya dalam memiliki nilai gengsi tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

Branding dan pencitraan lembaga merupakan sarana marketing institusi untuk meraih peminat sebanyak mungkin. Namun, hal yang sering terjadi adalah pencitraan yang disodorkan justru menjadi penegas terjadinya dikotomi antara institusi pendidikan berlabel ‘bergengsi’ dibandingkan yang biasa saja. Hal ini tentu sangat disayangkan, apalagi jika diperparah institusi pendidikan yang bermodal besar hanya membentuk citra institusinya dengan segala macam fasilitas super lengkap tetapi tidak ada transparansi terkait beban biaya ataupun iklim perkuliahan yang akan dihadapi calon mahasiswanya.

Sudah sejak lama sistem pemeringkatan perguruan tinggi berlangsung di Indonesia dan dunia. Adapun sistem pemeringkatan dilakukan oleh lembaga survei swasta, salah satunya adalah Webometrics. Webometrics adalah sebuah web survei pemeringkatan universitas di seluruh dunia yang telah bergerak melakukan pemeringkatan sejak tahun 2004. Webometrics sebagai badan pemeringkatan universitas digerakan oleh Cyebermetrics milik Consejo Superior de Investigaciones Científicas yang merupakan badan riset publik di Spanyol. Webometrics memiliki tujuan untuk memberikan pemeringkatan tiap universitas dunia oleh indikator-indikator yang telah dibentuk. Secara online, Webometrics melalukan peninjauan kinerja universitas dengan tujuannya mengenalkan keterbukaan akses informasi akademik kepada masyarakat luar.

Telkom University sebagai salah satu universitas swasta favorit di Indonesia telah dimasukan oleh Webometrics sebagai universitas swasta peringkat pertama di Indonesia. Peringkat Telkom University pada tahun 2022 kembali menjadi univeritas swasta peringkat pertama dan terbaik di Indonesia. Tak hanya itu, Telkom University juga berhasil menjadi Perguruan Tinggi Swasta Peringkat ke-1, Perguruan Tinggi (PTN/PTS) Peringkat ke-12 Indonesia dan Peringkat ke 401-600 Dunia dalam Pemeringkatan Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2022. Namun, berdasarkan keterangan dari beberapa narasumber justru mengatakan bahwa mengenal Telyu dari nama besar yang dimiliki sebagai universitas teknologi terbaik sejak dulu.

“Jujur, aku kan emang dari dulu mau banget di (jurusan) komunikasi. Pilihannya tuh kalo ga Jakarta, ya negeri (sebelum tau Telkom). Jadi, setelah research ternyata di Telkom itu ada (jurusan) komunikasi dengan akreditasi dan reputasi yg baik. Semakin aku research, ternyata banyak fakultas atau prodi yang di Telkom ada tapi di kampus lain nggak ada, kayak Industri Kreatif, Digital PR pun ga ada gitu di yang lain tuh,” ucap Olivia, mahasiswi jurusan Digital Public Relation angkatan 2021.

Ada beberapa tambahan yang disampaikan, seperti keluhan fasilitas milik kampus yang susah diakses secara daring, seperti Open Library. Mahasiswi jurusan Digital Public Relations Angkatan 2021, Zenitha, memberikan tambahan, “Tapi selama di Bandung, aku udah ngerasain Open Librarynya Telyu. Karena kan aku juga suka banget baca ya, jadi seminggu tuh bisa 2 sampai 3 kali bolak balik minjem buku, dan aku rasa aku nyaman banget di sana dengan pelayanannya juga fasilitas Open Librarynya,” ucap mahasiswi tersebut.

Sementara ketika dimintai saran dan masukan, narasumber berharap fasilitas universitas seperti layanan aplikasi dan website lebih di kembangkan, serta mengadakan sosialisasi sebelum diterapkan. Hal ini disebabkan ada beberapa mahasiswa, terutama dari daerah luar Pulau Jawa yang minim akses teknologi informasi menjadi lambat beradaptasi ketika mengunakan aplikasi universitas.  “Mungkin karena terlalu besar Telyu ini, jadi penyebaran informasinya juga harus bener. Kayak kemarin aja info hybrid sempat ada salah sebar karena fatal menurutku, dan tentu aku sangat mendukung tekonologi yang dijalanin Telyu ini,” komentar Oliva.

Menambahi beberapa komentar sebelumnya, narasumber lainnya, Alyzah menyampaikan bahwa, “Saran yang pasti lebih mudah untuk di-improve menurutku lebih kepada pelayanan aplikasinya sih, soalnya aku ngerasa okelah kampus, dosen, dan lainnya, tapi kaya other tools kecil, kayak aplikasi boleh tuh di-improve” ujarnya.

Penulis: Michelle Gabriella

Editor: Nur Aulia Rahman

Related Articles

Back to top button