Perfection 2019, Cakap Tanggapi Media dan Masyarakat Indonesia

0
217
Sumber gambar : google

AksaraNews, Bandung (31/10/2019) – UKM Jurnalistik Aksara kembali menyelenggarakan Perfection 2019 (26/10). Puncak dari acara adalah forum diskusi, yang mana pada tahun ini mengangkat tema bertajuk “Indonesia Terlalu Sensitif”. Acara yang diselenggarakan di Bandung Techno Park (BTP) dihadiri oleh Mochammad Yudha Satria Permana selaku Redaktur Republik Merdeka Online, Tri Joko Her Riadi selaku anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung dan wartawan pikiran rakyat, dan Idhar Resmadi selaku penulis buku dan jurnalistik musik. Diskusi yang berjalan apik melibatkan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Bandung, dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tel-U, BEM Fakultas Tel-U serta mahasiswa umum.

Tema Indonesia Terlalu Sensitif diambil atas dasar keresahan masyarakat terhadap media di Indonesia saat ini. Maraknya seruan aksi yang belakangan ini terjadi, menimbulkan keresahan terhadap informasi yang banyak tersebar di media sosial. Informasi dengan mudah didapat dan disebar luaskan, masyarakat bisa dengan mudah mengikuti jalannya aksi tanpa harus turun ke lapangan. Namun demikian, informasi yang tersebar tidak ditangkap sepenuhnya dengan baik oleh masyarakat. Seperti contoh pemberitaan siswa STM yang ikut turun membantu mahasiswa aksi. Selain itu, beberapa berita yang dilasir media tidak sepenuhnya fokus pada aksi demonstran. Brutalisme atau keributan yang terjadi selama aksi menjadi pokok pemberitaan.

Kejadian tersebut tidak jauh dari peran media sosial yang kini digunakan sebagai media informasi masyarakat. Media sosial merupakan ruang publik yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran suatu informasi. Informasi yang dahulu hanya bisa ditangkap lewat media cetak, televisi, atau radio kini semakin mudah didapat dan disebarkan. Peran masyarakat yang dahulu hanya sebatas pembaca, sekarang sudah bisa berkontribusi menjadi wartawan juga, atau dikenal juga citizen. Media sosial menarik kemauan masyarakat untuk memproduksi dan menyebarkan informasi. Muncul tantangan yang harus dihadapi dari kemajuan ini. Informasi yang tersebar dipertanyakan kevalidasiaannya. Masih banyak masyarakat yang menelan mentah-mentah sebuah informasi, tidak mencari kebenarannya maupun fakta dari informasi tersebut.

Ethan Mahesa Murty, selaku ketua acara Perfection 2019 berpendapat bahwa masyarakat zaman sekarang sangat mudah tertelan informasi, tanpa tahu kebenaran atau sumber dari informasi tersebut. “Karena melihat keadan kebanyakan orang Indonesia tidak tabayun dalam mencerna informasi yang ada, baik dari media maupun dari lingkungan masyarakat indonesia. Seola-olah masyarakat kita hanya merespon apapun yang sedang viral tanpa mengerti pokok permasalahannya,” jelasnya. Forum diskusi yang dipandu oleh Asaas Putra selaku dosen Telkom University berjalan interaktif dan kondusif.

Menyikapi sensitivitas media, masyarakat sekarang membutuhkan ruang publik baru, masyarakat membutuhkan ruang publik offline. Informasi yang didapat tidak melulu dari media sosial saja, tetapi juga lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini dapat membantu meminimalisir kesalahpamahaman informasi atau berita hoax. Disini juga media jurnalis bergerak sebagai orang yang membantu memberikan kebenaran atas informasi tersebut. Jurnalis membantu meluruskan informasi yang ada, melakukan reportase langsung atau mewawancarai narasumber yang berwenang. Tetapi tidak dapat dipungkiri, media jurnalis juga harus berkembang mengikuti pesatnya perkembangan zaman. Jurnalis harus membuat inovasi baru yang bisa menarik perhatian masyarakat.

Selain ruang publik dan media jurnalis, masyarakat Indonesia juga membutuhkan media literasi. Bukan hanya membaca, tetapi juga memahami isi dari berita yang ada. Kunci meminimalisir hoax adalah dengan banya membaca, banyak mencari berita dari berbagi sumber, lalu membandingkan berita tersebut untuk dipahami isinya. Hal ini masih sangat sulit dilakukan.

Forum diskusi seperti ini merupakan salah satu contoh ruang publik offline. Orang akan dengan mudah bertukar informasi dan opini secara langsung. Diharapkan juga dapat mengedukasi dan memberika informasi lebih. “Harapan dibentuknya forum diskusi ini dapat membuat masyarakat (mahasiswa) bisa mengerti cara menanggapi, mencari, dan memberikan informasi dengan bijak dan cermat,” ujar Ethan.

Penulis: Nur Azizah Arini Putri

Editor: Dewa Made Surya