Perjalanan Kereta, Kisah Singkat Penuh Kenangan

    0
    183

    AksaraFeature, Bali (26/10/2019) – Kisah hidup seseorang begitu beragam hingga tidak mungkin ditangkap hanya dalam satu buku. Banyak yang begitu unik, hebat, mewah, dan megah telah diceritakan berulang-ulang kali dengan konsep atau sudut pandang berbeda. Namun, selain roman, fantasi, horor, petualangan, dan segala epik tersebut, ada juga kisah kecil tentang sehari-hari kita. Serayu Malam adalah sebuah buku yang mengisahkan kejadian yang bisa jadi dialami semua orang, tetapi bisa jadi tidak disadari satupun di antaranya. Layaknya kereta, tulisan Muhamad Wahyudi membawakan pembaca sebuah perjalanan singkat penuh kenangan.


    Sorot utama buku ini adalah sebuah kereta api Serayu rute Pasar Senen-Purwokerto yang berangkat di malam hari. Bukan berarti buku ini menceritakan kereta api yang sedang kasmaran dan dilema memilih pekerjaan atau cinta, tetapi kisah-kisah kecil yang ada di sekitar seiring ia melaju. Ada kisah penumpang di ruang tunggu, ada saat-saat mereka bercerita demi melawan kantuk, juga perdebatan warga di sekitar jalur kereta api yang terlihat dari jendela, hingga seorang mahasiswa yang baru kehilangan tempat ternyamannya di kota besar Jakarta.


    Buku berukuran 11.5×17.5 cm (sedikit lebih besar dari A6) dan tebal 200 halaman adalah bacaan singkat yang bisa dihabiskan dalam dua kali bahkan sekali duduk. Renggang antara kalimat dalam satu halaman sangat cocok dan nyaman dibaca, tidak besar dan tidak kecil. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dengan sedikit bumbu-bumbu bahasa daerah pada dialog tokoh. Karena kisah yang dituturkan berubah sudut pandang seiring melajunya kereta, kisah di dalam buku dipotong-potong menjadi kisah-kisah singkat yang terdiri dari sekitar 8-15 halaman.
    Jangan kaget jika sudut pandang kisah selanjutnya dibawakan oleh tokoh yang sama sekali tidak kita tahu. Kita hanya belum tahu. Kejutan yang tidak kita duga, tetapi tidak di luar akal sehat adalah kesan dari hubungan antar kisah yang tertulis.


    Cara bertutur Muhamad Wahyudi yang tidak kehabisan diksi, digenjot kembali dengan pilihan kata yang selalu jujur akan keadaan. Rasa kesal, lelah, dan pasrah ditulis tanpa melebih-lebihkan. Tidak pula terlalu kaku dan penuh akan formalitas. Cara bertutur tersebut membuat kita percaya dan sadar bahwa hal-hal tersebut memang sebagaimana mestinya tokoh-tokoh alami. Kota, desa, manusia, dan segala benda di dalamnya hidup dan berjuang untuk hidup itu.


    Membaca buku ini tidak memberikan kita pengalaman yang luar biasa, tetapi jujur tidak akan terlupakan. Kisah-kisah di dalamnya membaur dengan kehidupan sehari-hari kita. Mereka adalah cerita tentang keseharian penuh kenangan yang tidak selamanya manis. Mengingatkan kita bahwa ada saat kisah itu terjadi pada kita.

    Penulis: Dewa Made Surya

    Editor: Falaah Saputra Siregar