Polisi Gelar Rekonstruksi, Motif Pelaku Terungkap

0
1644

AksaraNews, Bandung (3/4/2018) – Menindaklanjuti dari kasus yang terjadi di Telkom University, terkait meninggalnya mahasiswa S1 Teknik Elektro, Alexander Ramos F. Sihombing, hari ini (3/4) Pihak Kapolsek Dayeuhkolot menggelar olah TKP untuk merekonstruksi perbuatan pelaku pada Minggu (11/3) lalu. Rekonstruksi ini dimulai pada pukul 10.00 pagi. Dihadiri oleh pihak kepolisian, para pelaku, serta keluarga dan teman-teman korban. Proses rekonstruksi ini dilakukan di jalan samping Gedung P (Gedung Fakultas Teknik Elektro) dan gerbang belakang Telkom University, Jalan Radio Palasari. Dalam rekonstruksi ini, terdapat 14 adegan yang diperagakan oleh para pelaku.

Rekonstruksi dimulai dari saat korban dan pelaku bertemu di jalan samping Gedung P. Korban bertemu dengan keempat pelaku yang berada dalam kondisi mabuk akibat minuman keras. Ketika pelaku bertemu korban, kendaraan korban disudutkan. Para pelaku menyudutkan korban dengan alasan kekurangan uang untuk membeli tambahan minuman keras (miras). Namun pada saat itu korban tidak mempunyai uang, hingga terjadilah perkelahian di TKP tersebut. Adegan yang terjadi selanjutnya memperlihatkan pelaku menikam korban, kemudian korban pergi melarikan diri. Sedangkan para pelaku mengambil ponsel korban yang terjatuh dan ikut meninggalkan TKP menuju Radio Palasari. Korban kemudian kembali dan ditemukan tergeletak di gerbang belakang Telkom University, Jalan Radio Palasari.

Sejauh ini, motif yang telah berhasil diungkap oleh pihak kepolisian adalah Curas (Pencurian dengan Kekerasan), karena korban dan pelaku tidak saling mengenal. Pasal yang menjerat pelaku yaitu Pasal 365 ayat (4) KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan. Kapolsek Dayeuhkolot kemudian melanjutkan jika masa hukuman yang akan diterima pelaku yaitu ancaman hukuman selama 20 tahun hingga seumur hidup.

“Sementara ini, proses persidangan masih berlangsung, karena pihak kepolisian masih mengejar Tahap 1. Dimana ada salah satu pelaku yang masih dibawah umur. Kita melakukan 7 hari penahanan, dipercepat,” jelas Kapolsek Dayeuhkolot, Kompol Risnanto.

Sementara itu, keterangan yang didapat dari kuasa hukum keluarga korban, adalah bahwa sampai kapan pun, pihak keluarga tidak akan berhenti untuk membongkar kejadian ini. “Harapan kami dari keluarga korban, bahwasanya kami mengharapkan kinerja dari pihak kepolisian, untuk membuka perkara ini seterang-terangnya,” jelas kuasa hukum keluarga korban.

Dari ayah korban sendiri yang turut menghadiri olah TKP ini, menyebutkan jika hukuman yang diinginkan pihak keluarga korban yaitu harus sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia ini. Ayah korban menekankan agar kasus ini harus sampai pada titik terang. Karena walau dari pihak keluarga sudah memaafkan para pelaku, tetapi hukum harus terus berlanjut karena itulah yang perlu dilihat oleh masyarakat.

“Bukan hanya terpukul, tapi sangat terpukul. Saya tidak bisa menggambarkan rasa sakitnya, cuma harapan saya, kedepannya bagaimana negara menciptakan situasi yang bisa membina mental-mental masyarakat yang bebal seperti itu. Karena bagaimana pun, anak kami sudah tidak bisa kembali. Walau anak kami sudah kami relakan, biarlah anak saya menjadi korban kebiadaban, tapi menjadi contoh baik yang perlu diperhatikan, untuk tidak ditiru orang lain,” ujar ayah korban.

“Ale adalah sosok yang sangat baik, penurut dan berpikiran panjang. Ale juga sering mengatakan bagaimana ia bisa membantu orang-orang yang susah. Mengenai sifat Ale itu juga bisa ditanyakan kepada teman-temannya, yaitu memang terjadi bahwa demikianlah sosok Ale,” ungkap ayah Alexander Sihombing. Sang ayah mengaku terakhir bertemu anaknya pada 8 Januari kemarin.

 

 

Penulis : Milati Hanifah

Editor  : Hartika Imanniar