Pojok AksaraSastra

Rasa Mint

Satu isapan terakhir sebelum ia buang kuntung rokok ke selokan. Malboro, setelah rokok itu bertengger cukup lama di tangan yang juga menggenggam stang kemudi. Lalu ia hamparkan napas asap terakhirnya keluar laju yang membawa kami menyusuri aspal dan hingar bingar lampu pijar pesisir kota yang buram keemasan, menuju ketiadaan. Namun masih dapat kucium aroma tembakau, dan kandungan kopi instan. Atau sesuatu yang lain. Alkohol? Bau napasnya selalu seperti bau orang pesakitan di indra penciuman.

                Akhir-akhir ini ia rajin shalat. Kerap pula kudengar dari kamar suaranya melantunkan ayat suci. Selaras dengan kepala yang disandangkan peci, kupeah pemberian bapaknya yang juga kurang rajin ibadah. Aku sudah percaya ia bisa berubah, meski merokoknya tak kunjung berkurang.

                Ia melajukan motornya pelan. Baru saja kami ke kontrakan mengabil helm. Sedikit banyak bergurau tentang gadis-gadis yang beterbangan di kepala kami tiap hari dan nasib sial yang menengahi kisah asmara perkuliahan kami yang  sebencana ini. Sudah pasti aku akan menceritakan orang yang sama. Lalu dia akan muncul dengan tokoh dan cerita yang berbeda, atau kisah-kisah sebelumnya yang akan ia putar berulang-ulang. Barang tentu keluhnya datang lewat perulangan, tak ada gadis yang sudi melintingkan sebatang rokok untuknya, atau mau ia ajak ke diskotik.

                Kembali ia sulut sebatang rokok di tempat pertemuan, ia ajak aku duduk menunggu diantara dua toko yang sudah tutup, memisahkan diri. Lanun, pria itu jarang sekali terdiam dan banyak melamun. Kemudian dilepaskan asap yang terkekang rongga hidungnya, meluap sesaat menutupi wajahnya lalu purna. “Ada apa Lanun?” Kutanya.

                Ia isap sekali lagi batang rokok itu. “Apa kabarmu mi?”

                “Aku? Kalau aku baik-baik saja. Kau ini yang kenapa? Tak biasa.” Ia malah menghisap rokoknya lagi. Mengepulkannya seolah tiada pernah ada apa-apa. Tidak ada aku yang bertanya, tidak ada pertanyaan dia yang sebelumnya pula. Memang tak ada yang suka saat dia berisik, sebab dia akan mengejek dan mengumpat, lalu segala disekitarnya akan instan jadi bahan olokan. Tak akan berhenti sampai semua orang pulang ke rumahnya masing-masing. Tapi dia malam ini bukan lah dia. Seolah tubuh yang kuajak bicara itu kosong, sebuah kulit sasa-sisa metamorfosis. Angin belaka.

                Maka tanpa banyak tanya lekas-lekas ia bangkitkan mesin motornya itu saat semua sepakat untuk berangkat. Bober, jadi tempat pembantaian jenuh orang-orang yang sejenak ingin berlari, kadang tanpa alasan, kadang tanpa menitip logika di tiap pilihan. Hanya insting purba: lari.

                Selalu ada konflik ruhiah didalam berbagai macam hubungan, termasuk berorganisasi. Barang kali begitulah yang dirasa Lanun saat pada akhirnya diperjalanan ia bilang. “Aku sedang jenuh dengan UKM ini.”

                “Kenapa?”

                “Pelarian ini sakarang malah terasa bagai perkara yang harus aku lari darinya. Tak masuk akal, aku jadi suka merasa kalau-kalau aku tak diaanggap lagi. Adinaya, Salaksa, Rukiyah, junior-junior yang ada di bawahku malah terlihat lebih menghargai Samsul dari divisi lain.”

                “Mungkin kau kurang ngobrol saja. Dan perkara seperti itu aku malah sering merasakan. Dulu junior-juniorku juga rasanya seperti itu. Merasa tak dianggap, merasa cemburu, Samsul juga orangnya. Masalah seperti itu soalusinya komunikasi. Sekarang terbukti hubungan kami makin baik, meski kadang Samsul masih tetap datang dominan.”

                Kemudian yang tersisa dari keberadaan Lanun hanya kepulan asap rokoknya. Rokok yang kesekian. Sementara jasadnya diam bagai kucing dikebiri. Sepajang malam di tempat kita duduk. Sepanjang malam.

                Di kepulangan yang tak tertahankan setelah itu Lanun terbirit-birit seolah dikejar hantu. Kupikir akhirnya dia bebas dari domunisi Samsul di meja makan itu. Maka ia pacu motornya bagai orang kesurupan dan tak takut mati. “Kau gila ya?” Teriakku bertanya.

                “Setiap orang punya pelariannya masing-masing kan?”

                “Kalau mau mati jangan ajak-ajak. Pelarian macam apa?”

                “Kau sendiri punya pelarian kan?”

                “Hah, apa maksudmu?”

                “Kau merokok kan? Gara-gara kau tatap di depanmu gadismu itu, satu-satunya gadis di UKM kita yang kau selalu ceritakan padaku, berdekatan dengan abangmu. Itu pelarianmu kawan. Tak usah kau pungkiri! Dalam deru yang seperti memisahkan kita dengan realita dia masih saja bisa menandai kalimatnya. Aku tak berani menjawab lagi. Lanun itu brengksek seperti biasa.

                “Lanun… Apa rasa rokok yang sering kau isap itu?”

                “Euh… Rasa mint, kenapa?”

                “Lain waktu kasih aku satu batang, biar kucoba.”

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Juga
Close
Back to top button