Featured

Rekomendasi Film Coming of Age: Kompleksitas Dalam Transisi Remaja

AksaraFeature, Bandung (27/08/2020) – Jika setiap fase dalam hidup kamu dibuat menjadi film, akan bagaimanakah film tersebut ? Akankah selucu film Stephen Chow dengan genre komedi ? Atau semenarik film action yang dibintangi Jean-Claude Van Damme ? Mungkin bahkan semenakutkan film mendiang Suzzanna?

Lalu, bagaimana ketika kita mencocokkan kehidupan mahasiswa kedalam genre sebuah film, genre apakah itu? Sebagian orang akan mengategorikannya kedalam genre perang karena mahasiswa sering merasakan sensasi layaknya berperang ketika menghadapi deadline tugas atau bimbingan skripsi. Adapun yang akan mengategorikannya kedalam genre dark comedy karena merasa semua kehidupan kampus adalah sebuah lelucon belaka. Duh, sepertinya kehidupan kampus menjadi sangat tidak menyenangkan.

Menurut saya, sebagian mahasiswa memiliki kehidupan layaknya film Coming of Age. Jenis film ini bercerita tentang transisi seseorang dari anak kecil menjadi dewasa. Mahasiswa termasuk dalam transisi tersebut, yaitu masa yang digambarkan dengan pergolakan dan stres.

Karakter dalam beberapa film di bawah ini mengalami permasalahan yang mungkin kamu rasakan juga saat ini. Berikut adalah beberapa pilihan film yang berbeda dari kesan film “remaja” pada umumnya.

  1. All About Lily Chou-Chou (2002)
Sumber : IMDb

One of the most haunting, viciously honest coming-of-age films,” merupakan kutipan yang tersemat pada poster film besutan Shunji Iwai. Kutipan tersebut dapat membuat seseorang yang menontonnya selalu teringat akan film ini. Bayangkan, jika teman kamu berubah menjadi orang yang merundungi mu. Kemudian kamu juga dipaksa untuk ikut merundung orang lain. Kemalangan terus berlanjut saat kamu harus terlibat dalam bisnis prostitusi pada masa SMP. Itulah kemalangan yang dialami oleh tokoh utama film ini, Yuichi Hasumi. Gambaran tersebut sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan betapa gelap dan mengganggunya film ini.

Sebagian orang mungkin kurang nyaman dengan minimnya dialog yang menjadi ciri khas film jepang. Namun, shoot kamera yang terkesan “Raw” dan unik akan membuat kaget sekaligus membuat kamu terkagum-kagum. Tidak lupa skor film yang bernuansa ambient akan menambah kesan dreamy. Film ini cocok untuk kamu yang ingin mengenal film jepang ataupun film Shunji Iwai.

  1. City Of God (2002)
Sumber : IMDb

Jika Kamu bertanya-tanya “Ada gak sih film amerika latin yang bagus?”, jawabannya ada, bahkan banyak sekali. Well, kamu bisa mulai menonton film amerika latin yaitu “City of God.”

Gangster, narkoba, dan lingkungan yang kumuh seakan menjadi paket lengkap dalam menggambarkan kehidupan remaja di Rio de Janeiro sekitar tahun 60-an sampai 80-an.

Perkembangan remaja dalam film ini digambarkan dengan penuh kebrutalan, bagaimana remaja-remaja terlibat dalam perdagangan narkoba, serta perang dan saling balas dendam. Uniknya, sang tokoh utama terlihat kurang berperan pada bagian awal film, hingga pada suatu kejadian yang membuatnya mengubah keadaan dalam kota.

Film ini diangkat dari novel berjudul Cidade de Deus (1997) yang terinspirasi dari kisah nyata. Para pemainnya pun berasal dari warga lokal dan amatir. Alasan pemilihan aktor-aktor tersebut karena kurangnya aktor berkulit hitam professional serta keinginan untuk keaslian. Dua alasan ini yang membawa film tersebut masuk nominasi dalam berbagai ajang penghargaan. Satu kata dari saya untuk film ini, “Berani!”

  1. Boyhood (2014)
Sumber : IMDb

Secara umum pembuatan film dibagi menjadi tiga babak yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Tahapan-tahapan tersebut biasanya berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Hal yang menarik dari film Boyhood adalah pembuatan film yang mencapai 12 tahun. Sebuah proses yang sangat lama dalam pembuatan film. Alih-alih menggunakan aktor yang berbeda untuk menggambarkan fase dalam kehidupan yang berbeda. Namun, sang sutradara, Richard Linaker, lebih memilih untuk menggunakan aktor yang sama untuk menggambarkan perubahan yang terjadi dari masa kanak-kanak hingga remaja. Ellar Coltrane, pemeran Mason, tokoh utama dalam film ini berusia 6 tahun saat pertama kali syuting. Setelah 12 tahun lamanya, proses produksi Boyhood akhirnya selesai. Ini menakjubkan !

Fokus utama dalam cerita ini adalah tentang Mason yang hidup dalam keluarga yang kurang harmonis. Dirinya terus bertemu keluarga baru karena Ibunya yang terus berganti pasangan. Karena menggunakkan aktor yang sama, film ini dapat menampilkan perubahan psikologi karakter Mason dengan baik. Akibat lamanya pembuatan film ini, perubahan waktu dapat kita ketahui dengan perubahan referensi budaya pop, soundtrack, dan kemajuan teknologi yang digunakan oleh karakter. FIlm ini seperti film dokumenter tentang suatu keluarga.

  1. A Brighter Summer Day (1991)
Sumber : IMDb

Berbicara tentang Taiwanese New Wave dan sinema Taiwan tentu kita tidak boleh melewatkan Edward Yang. Salah satu filmnya yang berjudul A Brighter Summer Day harus masuk ke dalam list film Coming-of-Age. Bercerita tentang kehidupan remaja Taiwan pada tahun 60-an yang dipengaruhi oleh American Pop Culture. Nuansa melankolis semakin terasa apabila kita mengingat scene  lagu “Are You Lonesome Tonight” dari Elvis Presley.

Perubahan sikap Xiao Si’r, sang tokoh utama, dipengaruhi oleh drama yang terjadi di keluarga, Geng di sekolah, dan kisah cintanya yang tragis. Xiao Si’r mengalami ketidakyakinan, ketidakstabilan, dan kekerasan seperti yang dialami oleh remaja Taiwan lainnya pada saat itu. Kenakalan-kenakalan remaja saat itu akibat dari keadaan Taiwan yang sedang mengalami konflik setelah mendapat kekalahan oleh kelompok komunis.

Film ini berdurasi hampir 4 jam, namun lamanya durasi membuat alur cerita menjadi sangat kompleks. Klimaks di akhir film yang sangat tidak tertebak akan membuat perasaan bercampur aduk tak karuan.

  1. House of Humingbird
Sumber : IMDb

Eun Hee, sang tokoh utama berusia 14 tahun yang sangat terbelenggu oleh kehidupan. Eun Hee harus hidup bersama Ibu yang pemarah, ayah yang sering mengeluh, kakak perempuan pemberontak, dan kakak laki-laki yang sering memukulnya membuat hidup sang tokoh utama bergejolak.

Setiap adegan dalam film memang terkesan sepele dan dibuat sangat ringan, namun memiliki efek emosional yang cukup kuat. Kehidupan Eun Hee sangat menggambarkan apa yang dirasakan remaja. Seakan dunia yang kamu jalani saat ini terhalang oleh orang-orang di sekitar kamu. Kemudian, kamu mengira-ngira siapa yang patut disalahkan atas apa yang kamu terima.

Ketika menonton film ini, saya teringat film besutan Kore-eda yang berjudul “Shoflifter”, mungkin karena kedua film ini bertemakan keluarga.

 

Beberapa rekomendasi film di atas terkesan hanya memeperlihatkan kehidupan remaja yang suram. Tidak ada tujuan dari saya untuk menambah ‘ruwet’ pikiran kamu. Saya hanya ingin menunjukkan sedikit seluk beluk remaja yang digambarkan dalam sebuah film.

Dengan menonton daftar film diatas, kegalauan masa muda kamu juga tidak akan selesai begitu saja. Film diatas hanya fiktif belaka, sedangkan hidup kamu itu nyata. Kamu harus menyadari bahwa hidup memang tidak sempurna dan rasanya akan membuang waktu serta tenaga jika kita menghabiskan masa muda dengan hanya menyalahkan orang lain atas apa yang kamu peroleh. Kadang kala kita harus melihat kebawah untuk bersyukur dan menjalani semua rintangan yang ada.

“Hidup itu tragedi, waktu kamu melihatnya dari jarak dekat, tapi sebuah komedi saat kamu melihatnya dari jarak jauh.” Charlie Chaplin.

Penulis : Fanji Aburizal

Editor : Yudinda Gilang Pramudya

Related Articles

Back to top button