Sejarah dan Identifikasi Pelat Nomor di Indonesia

    0
    82
    Sumber : mobilmo.com

    AksaraFeature, Bandung (01/09/2020) – Pelat nomor atau yang dikenal sebagai Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) merupakan sebuah tanda berbentuk kombinasi huruf dan angka dari kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di jalanan. Fungsi pelat nomor ini adalah sebagai identifikasi dan tanda registrasi kendaraan. Walau terlihat sepele, namun pelat nomor atau yang sering disebut nomor polisi ini memiliki esensi historis tersendiri.

    Sejarah Pelat Nomor

    Munculnya pelat nomor kendaraan pertama kali yaitu di Prancis pada 14 Agustus 1893. Saat itu, mobil merupakan barang mewah dan hanya segelintir orang yang memilikinya. Pemilik kendaraan tersebut membuat sendiri pelat nomor agar tidak tertukar dengan kendaraan milik orang lain.

    Di Indonesia, pelat nomor kendaraan diawali oleh kedatangan tentara Inggris di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1810 untuk mempertahankan wilayah jajahannya. Pasukan Inggris datang dengan sekitar 15 ribu tentara yang terbagi dalam 26 batalion. Masing-masing diberi kode huruf sesuai abjadnya.

    Setelah berhasil menduduki Batavia, pasukan Inggris memberi tanda huruf B pada kereta kudanya sebagai tanda untuk membedakan antara kawan dan lawan. Huruf B bermakna bahwa wilayah Batavia direbut oleh pasukan batalion B. Penomorannya yaitu huruf B di depan, lalu dikuti 5 digit angka dan ditambah huruf A untuk Annex (tambahan) atau C untuk Cargo di belakangnya.

    Pendudukan wilayah kemudian meluas ke Banten yang dilakukan pasukan Batalion A, Surabaya oleh batalion L, dan Madura oleh Batalion M pada 27 Agustus 1811. Wilayah lain yang berhasil direbut, turut menerapkan pelat nomor seperti yang dilakukan oleh pasukan batalion di Batavia. Terkhusus untuk wilayah Kedu (Magelang dan sekitarnya), Yogyakarta, dan Solo yang terdiri dari dua huruf. Ketiga wilayah tersebut merupakan kekuasaan kerajaan Mataram yang merupakan negara tersendiri dan bukan bagian dari jajahan Belanda. Kesultanan Mataram Islam memilih menyerah dan bergabung dengan Inggris sehingga dikirimlah batalion A dan batalion B untuk daerah Yogyakarta, serta batalion D untuk wilayah Solo. Wilayah Kedu hanya ada batalion A. Hal itu juga berlaku di Madiun dan Kediri yang dipimpin oleh batalion A bersama dan batalion E untuk Madiun serta batalion G untuk Kediri. Tidak semua batalion ikut bertempur seperti batalion C, I, J, O, Q, U, V, W, X, Y, dan Z karena difungsikan sebagai backup.

    Setelah wilayah Jawa berhasil direbut Inggris, Sir Thomas Stanford Raffles membentuk wilayah administratif berdasarkan wilayah militer tadi yang disebut regency atau karesidenan. Saat Belanda kembali pada 1816, Belanda melanjutkan sistem nomor kendaraan tadi dan memperluas penerapannya ke Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.

    Semenjak tahun 2000, terjadi perubahan kode pelat huruf untuk beberapa wilayah. Untuk daerah Gresik dan Sidoarjo menggunakan pelat huruf W yang mulanya mengikuti Surabaya (pelat L) dan pelat huruf Z untuk eks-Karesidenan Parahyangan Timur yang terdiri dari Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, dan Kota Banjar yang semula mengikuti Bandung Raya (pelat D).

    Identifikasi Pelat Nomor

    Mengutip dari situs resmi NTMC Polri, pelat nomor berisi 3 hal, yaitu kode wilayah pendaftaran, nomor pendaftaran kendaraan bermotor, dan masa berlaku. Kode wilayah pendaftaran berada pada huruf depan. Bagian pendaftaran terdiri dari nomor urut dan kode huruf belakang sebagai pembagian sub-wilayah. Bagian terakhir dari isi pelat nomor adalah masa berlaku. Kendaraan bermotor saat didaftarkan memiliki masa berlaku selama lima tahun. Setelah tahun kelima habis masanya, pemilik kendaraan wajib mendaftarkan ulang kendaraan bermotornya.

    Selain itu, warna pada setiap pelat nomor kendaraan juga memiliki makna tertentu. Warna hitam pada pelat menunjukkan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi, warna pelat putih digunakan oleh kendaraan baru yang sedang masa percobaan atau belum diregistrasikan. Pelat merah dengan tulisan putih digunakan oleh kendaraan dinas pemerintah. Sedangkan pelat kuning digunakan pada angkutan umum.

    Misalnya, sebuah mobil pribadi baru di Kabupaten Bandung dengan kode wilayah D dan Kabupaten Bandung memiliki kode huruf belakang V, W, Y, dan Z. Menurut kebijakan Polda Jawa Barat, untuk mobil penumpang bukan angkutan umum menggunakan angka 1-1999. Pada tahun 2012 muncul kebijakan semua nomor kendaraan bermotor berpelat D menggunakan tiga huruf di belakang. Maka, Samsat Kabupaten Bandung hanya mengeluarkan nomor kendaraan dengan akhiran VAA, VAB, VAC, …, VZZ, dan berlanjut hingga akhir. Jadi, contoh pelatnya adalah D 1234 VAA dengan menggunakan pelat warna hitam.

    Penulis : Iqbal Abdul Ra’uf

    Editor : Yudinda Gilang Pramudya