Sejarah Terbentuknya Hari Koperasi Nasional

    0
    86
    Sumber: fixindonesia

    AksaraFeature, Bandung (12/07/2020) –Setiap tanggal 12 Juli setiap tahunnya Indonesia memperingati Hari Koperasi. Tepat 73 tahun lalu, sebuah organisasi yang bergerak di bidang ekonomi resmi berdiri di Indonesia, disebut dengan nama Koperasi. Koperasi merupakan badan usaha yang yang dimiliki dan dioperasikan oleh anggotanya untuk memenuhi kepentingan bersama. Sejarah panjang telah menjadi saksi jatuh dan berdirinya organisasi ini.

    Penetapan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi dimulai sejak pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan kongres nasional pertama di Tasikmalaya pada tanggal tersebut. Selain menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi, kongres pertama ini juga menghasilkan berbagai keputusan lainnya seperti membentuk SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia) dan menetapkan kepengurusannya.

    Koperasi pertama kali muncul di tahun 1896 berdasarkan gagasan R. Aria Wiraatmadja. Beliau mendirikan bank yang diperuntukkan khusus bagi para pegawai negeri. Semangat ini terus dibawa hingga akhirnya pada tahun 1908, Dr. Soetomo mendirikan Budi Oetomo. Organisasi ini menjadi awal mula pergerakan koperasi yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, terutama rakyat miskin, seperti yang kita kenal saat ini.

    Namun, semangat ini tidak berlangsung lama karena pemerintah mengeluarkan undang-undang yang mematikan usaha koperasi pada tahun 1933. Pada masa penjajahan Jepang, koperasi dinamai Syomin Kumiai Tyuo Djimusyo. Hanya saja, koperasi ini hanya menjadi alat bagi penjajah Jepang untuk mengeruk keuntungan bagi pihak Jepang, bukan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

    Koperasi mengalami pasang surut setelah kemerdakaan. Kongres kedua kemudian diadakan di Bandung pada 17 Juli 1953. Momentum utama pada kongres koperasi kedua adalah diangkatnya Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia atas kontribusinya dalam memberikan gagasan tentang perekonomian di indonesia dan dorongan serta dukungannya terhadap gerakan koperasi.

    Kedudukan koperasi di Indonesia semakin kuat setelah ditetapkannya Undang-Undang No. 12 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum Koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

    Koperasi sendiri dikelompokkan menjadi berbagai jenis, yaitu koperasi produksi, koperasi konsumsi, koperasi simpan pinjam, koperasi serba usaha, koperasi simpan pinjam, dan koperasi jasa. Melalui koperasi, pemerintah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian pedagang mikro agar mampu bersaing dengan pasar makro. Adanya koperasi ini tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya saja, namun juga masyarakat pada umumnya.

    Koperasi juga turut serta dalam pembangunan nasional. Kehadiran koperasi dapat membantu pergerakan perekonomian Indonesia dengan mengarah pada akar rumput (grassroots). Dibentuk atas asas kekeluargaan, koperasi juga menjadi prinsip gerakan ekonomi kerakyatan dan menuntun pada pembangunan tatanan perekonomian nasional.

    Peran koperasi dalam perekonomian Indonesia dibuktikan dari peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) koperasi terhadap PDB Nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah), koperasi berkontribusi sebesar 5,1 persen terhadap PDB di tahun 2019, menunjukkan adanya peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

    Sejak ditetapkannya Hari Koperasi Nasional 73 tahun lalu, koperasi telah membawa banyak dampak positif bagi perekonomian negara. Koperasi terus berkembang hingga menjadi tulang punggung dan salah satu pilar utama ekonomi nasional hingga saat ini. Selain itu, koperasi terbukti mampu bertahan meski perekonomian Indonesia terus mengalami perkembangan, organisasi dengan sistem kekeluargaan yang khas ini mampu menerjang pengaruh globalisasi yang telah mengubah lanskap dunia usaha di Indonesia. Maka, tidak aneh jika koperasi kemudian disebut dan dinobatkan sebagai soko guru atau tonggak perekonomian Indonesia.

    Penulis: Muhammad Fikri
    Editor: Nur Azizah Arini Putri