Pojok AksaraSastra

Seni Mengeluh: Ekspresi Diri Atas Ketidaksempurnaan

Kaum hipotimia (orang yang selalu mengeluh) menggambarkan ekspresi diri atas ketidaksempurnaan dalam kehidupan. Golongan kaum hipotimia memiliki “bad control” atas kejadian yang tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya sendiri. Seseorang yang memiliki in control-in charge jika dalam kondisi mengalami kejadian buruk, ia akan meluapkan emosi dengan cara elegan (tidak mengeluh) melainkan, intropeksi diri untuk mendapat solusi yang lebih baik. 

Kontrol bagian dari mindset. Jika seseorang memiliki mindset, ia dapat mengontrol emosi. Kontrol emosi berhubungan dengan teori stoicism, dikotomi kendali mengungkapkan bahwa dunia terbagi menjadi dua. Ada hal yang bisa kita kontrol dan ada hal yang tidak bisa kita kontrol. Homestachism menerima bahwa kejadian buruk akan terjadi dan bisa menerima kejadian buruk tersebut. To be expected. Seseorang yang sering mengeluh tidak bisa menerima bahwa mereka tidak bisa mengontrol kejadian yang tidak bisa mereka kontrol. Mereka yang sering mengeluh merasa tidak bisa mengubah keadaan buruk. Contoh hal kecil: A pergi ke kampus, tiba-tiba ketika A mengendarai kendaraan ternyata jalan yang dilewati rusak. Hal tersebut menjadi contoh emosi yang tidak dapat terkontrol.

Menerapkan Stoicism membantu mempercayai kejadian baik dan buruk pasti akan terjadi. Mengeluh dapat diminimalisir. Karena ketika seseorang mengeluh, ia menyerahkan kontrol hidup pada entitas lain. Jika frekuensi mengeluh banyak, artinya seseorang tersebut kurang mindfull dan kurang accepted.

Sel-sel neuroplasticity dalam otak akan terhubung karena trigger mengeluh sangat berdampak bagi mindset. Habit seperti ini akan membentuk otak seseorang secara negatif, yang dimana semua hal dikeluhkan. Kesimpulannya mengeluh hal yang wajar tetapi harus mempunyai batasan. 

 

Oleh: Lulu

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Juga
Close
Back to top button