Opini

Tanggapan Mahasiswa Mengenai Eksistensi BEM Telkom University

AksaraNews, Bandung (10/04/2023) – Regenerasi sejatinya merupakan rantai penghubung organisasi agar dapat terus mempertahankan eksistensinya. Jika regenerasi tidak terjadi maka dapat dipastikan organisasi tersebut akan mati. Contohnya dapat kita lihat langsung pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Telkom University. Ketidakberhasilan Pemira sebagai ajang pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) mengakibatkan BEM terpaksa vakum selama satu periode lebih. Beberapa waktu kemarin, BEM sempat hadir kembali sebelum akhirnya diberi ketegasan tidak boleh melakukan kegiatan karena tidak disahkannya oleh Kemasiswaan. Hal ini tentu saja menjadi sorotan banyak orang khususnya para mahasiswa.

Pada periode ini, ketua dan wakil BEM dipilih melalui sebuah musyawarah bersama dengan nama Kongres Mahasiswa. Pada Kongres Mahasiswa, perwakilan dari berbagai organisasi kemahasiswaan (ormawa) bermusyawarah untuk menentukan ketua dan wakil BEM. Namun, banyak ormawa yang ternyata tidak mendengar kabar akan adanya Kongres Mahasiswa. Mereka juga tidak tahu akan adanya BEM periode ini, sebagaimana diungkapkan oleh seorang anonim yang merupakan mahasiswa dari FKB, “Gak tau, kayak masih simpang siur gitu beritanya.”

Selain presma dan wapresma yang tidak dipilih melalui Pemira, BEM periode ini menimbulkan banyak opini dari publik karena tidak lolos dalam seleksi ormawa yang diadakan oleh pihak kampus. Eksistensi BEM di Telkom University pun kembali dipertanyakan oleh para mahasiswa. 

“Kalau dari pendapat aku ya, kayak kurang bagus aja gitu (kalau tidak lolos seleksi ormawa), karena BEM sendiri kan kalau misalnya kita lihat di universitas lain tuh sangat bekerja sama gitu dengan kampus. Sementara di Tel-U tuh, diseleksi ormawanya aja gak lulus. Jadi kayak questionable buat orang-orang yang baru tau. Dan sampai gak lulus ormawa tuh berarti sama dengan apa ya, kalau orang-orang awam pasti ngiranya kayak, oh ilegal,” ujar Dinda, mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan 2021.

Tidak lolosnya BEM dalam seleksi ormawa juga mengakibatkan BEM periode ini berjalan mandiri tanpa dukungan kampus. Namun hal ini dinilai wajar oleh Nauval Faiq, mahasiswa  Desain Produk angkatan 2022. “Wajar aja gapapa. Karena kondisinya juga emang lagi seperti itu, minat mahasiswa kurang karena Covid. Jadi, ya wajar aja. Tapi ya itu, gak boleh terlalu lama diwajarin kalau tujuannya memang positif.” Pendapat lain disampaikan oleh anonim dari Fakultas Komunikasi dan Bisnis, “Ya kalau menurut aku yaudah, mau gimana lagi. Soalnya gak jelas, kalau dikasih jadi ormawa pun belum tentu mereka bakal ngasih feedback ke kita dengan baik gitu. Jadi yaudah mending sekalian gak ada aja.”

Menurut Faiq, kampus seharusnya membutuhkan BEM, dengan tujuan yang harus jelas. Pendapat lain diungkapkan oleh anonim yang merupakan mahasiswa dari Fakultas Rekayasa Industri, “Ya harusnya sih BEM itu ada, cuma gak kayak gini. Jadi mungkin lebih ditonjolin aja lah. BEM tuh jatuhnya lebih kalah daripada himpunan-himpunan di fakultas di Telkom University ini.” Ia menambahkan bahwa ada tidaknya BEM tidak berpengaruh besar pada kehidupan kampusnya, “Gak ada pengaruh sih ada atau tidaknya BEM. Soalnya dari awal, gak ada dari BEM. Maksudnya kayak gak dapet benefit dari BEM gitu. Jadi kalau gak ada pun gak ada dampaknya gitu.”

Penulis: Kayyisa Zulfa dan Siti Salamah

Editor: Zida Naela Salsabilla

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button