Opini

Tanggapan Mahasiswa Telkom University terhadap Perkuliahan Daring dan Hybrid Blended Learning

AksaraNews, Bandung (24/05/2022) – Covid-19 memberikan dampak pada seluruh aspek bidang kehidupan salah satunya pada bidang pendidikan yang mengalami perubahan dalam sistem pembelajaran. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi sosial masyarakat semakin membaik akibat terkendalinya kasus Covid-19 di Indonesia. Perkuliahan dengan sistem hybrid pun mulai dirancang dan ditetapkan pada setiap perguruan tinggi di Indonesia salah satunya adalah Telkom University yang saat ini mulai menerapkan perkuliahan dengan sistem hybrid mengingat beberapa program studi yang memerlukan pembelajaran secara tatap muka. 

Berdasarkan SE Rektor No.059/AKD01/WR1/2022, Telkom University telah memulai perkuliahan secara hybrid pada tanggal 12 Mei 2022. Sebagian besar mahasiswa setuju dan antusias dengan adanya perkuliahan secara luring seperti yang telah diungkapkan oleh Ni Putu Ening Surya Ivajani, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2021. “Saya setuju dengan adanya perkuliahan hybrid, saya pribadi juga memilih perkuliahan secara luring karena saya rasa kuliah online mulai menjenuhkan terus sedikit materi yang benar-benar efisien dan bisa saya pahami dan saya merasa perkuliahan secara offline lebih efektif.” Ujar Iva. 

Ia juga merasa dengan adanya perkuliahan secara hybrid mahasiswa yang belum pernah ke kampus secara langsung jadi mengetahui kondisi dan keadaan kampus. Para dosen juga bisa meningkatkan kualitas pembelajaran dan komunikasi antar mahasiswa dengan dosen menjadi lebih efektif. Namun, menurut Iva perkuliahan secara hybrid ini masih kurang efektif bagi yang memilih perkuliahan online karena rata-rata dosen lebih fokus terhadap mahasiswa yang mengikuti hybrid dan masih sering terjadi kendala teknis yang membuat terhambatnya pembelajaran bagi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan online

Berbeda dari pendapat Iva yang mendukung adanya perkuliahan hybrid, salah satu mahasiswa Administrasi Bisnis angkatan 2021, Sintya Krisdamayanti, memilih untuk mengikuti perkuliahan secara online. Hal ini dikarenakan kondisi perbedaan jarak yang jauh antara rumah dan kampus serta biaya hidup yang tentu saja tidak sedikit. “Dengan saya memilih perkuliahan online saya bisa memangkas pengeluaran orang tua saya dan menurut saya juga kalau masih bisa menerima pembelajaran secara online dengan baik, ya hal tersebut sah-sah aja.” Ujar Sintya.  Meskipun Ia memutuskan untuk memilih kuliah online, Sintya merasa hybrid blended learning yang sedang dilaksanakan termasuk efektif karena mau bagaimanapun keadaannya pembelajaran tatap muka merupakan sistem yang paling efektif karena pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan dapat meningkat. Menurut Sintya, hybrid blended learning perlu diadakan agar kegiatan belajar mengajar jadi lebih efektif dan maksimal. “Kita sebagai mahasiswa juga bisa coba fasilitas kampus yang belum pernah kita coba terus bisa berinteraksi secara langsung sama temen-temen dan para dosen di kampus jadi kehidupan perkuliahan ini tidak monoton.” Ujar Sintya.

Disamping banyaknya keuntungan yang bisa didapat dari hybrid blended learning terdapat tanggapan dari mahasiswa yang menganggap bahwa dengan adanya hybrid blended learning ini dinilai kurang efektif bagi mahasiswa yang masih memilih perkuliahan secara online. Sebagian contoh hambatan yang dirasakan adalah terjadinya kesalahan teknis yang membuat waktu perkuliahan menjadi terpotong dan lebih fokus pada mahasiswa yang ada di dalam kelas daripada mahasiswa yang ada di dalam aplikasi Google Meet atau Zoom Meeting.

 

Penulis : Denissa Henriette Angelina

Editor : Yeni Octaviani

Related Articles

Back to top button