Headline

Telkom Medika Distribusikan Kartu Kesehatan Sebagai Kartu Identitas Berobat

AksaraNews, Bandung (28/2/2019) – Telkom Medika menyediakan layanan asuransi berupa kartu kesehatan yang diberikan untuk seluruh mahasiswa Telkom University (Tel-U).  Kartu Kesehatan ini merupakan sebuah kartu identitas yang digunakan untuk keperluan berobat, baik itu di poliklinik Tel-U maupun di rumah sakit yang bekerja sama dengan Telkom Medika. Kartu ini sudah berlaku sejak 2016 dan sebelumnya mahasiswa hanya menggunakan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) sebagai kartu identitas pasien. “Kita baru dikasih tahun 2016, sebelumnya kalian pakai KTM,” ujar Nurhayati selaku Kepala Urusan Bimbingan Konseling Telkom University.

Untuk pendistribusiannya, Telkom Medika memberikan kartu ini kepada bagian kemahasiswaan universitas, lalu dibagikan kepada setiap kemahasiswaan fakultas, baru setelahnya mahasiswa dapat mengambilnya ke bagian kemahasiswaan di fakultas masing-masing. Biaya kartu kesehatan ini senilai Rp150.000,00 yang sudah termasuk dalam pembayaran asuransi mahasiswa setiap semesternya. “Kartu ini tidak dipungut biaya. Jadi selama kalian setiap semester bayar 150 ribu, itu untuk mengcover kesehatan dan keselamatan,” jelas Nurhayati.

Cara pemakaian kartu ini adalah mahasiswa cukup datang ke poliklinik yang sudah disediakan Telkom dan memperlihatkan kartu kesehatan yang dimiliki. Pihak poliklinik akan mencocokkan kartu dengan data yang ada, setelah itu mahasiswa akan dilayani.

Selain bisa digunakan di poliklinik yang ada di Tel-U, kartu ini juga dapat digunakan di beberapa rumah sakit terdekat yang bekerja sama dengan Telkom Medika. Untuk saat ini, terdapat empat rumah sakit di Bandung yang telah bekerja sama dengan Telkom Medika. “RS Al-Ihsan, RS Bina Sehat, RS Muhammadiyah itu masih kerja sama, yang tambahannya RS Al-Islam,” tambah Nurhayati.

Rumah Sakit di kota-kota besar juga ditunjuk untuk bekerja sama dengan Telkom Medika. “Di PKS (Perjanjian Kerja Sama) yang baru, tambahannya itu rumah sakit di luar kota. Satu kota hanya terdapat satu, karena Telkom Medika di sana punya cabang rumah sakit-rumah sakit. Pokoknya yang kota-kota besar, Medan, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta.” Lanjut Nurhayati. Seperti keterangan Nurhayati, bahwa mahasiswa yang berobat dengan kartu ini tidak akan dipersulit. Sementara untuk berobat di rumah sakit, cara penggunaan kartu ini sama dengan ketika berobat ke poliklinik. Mahasiswa hanya perlu menunjukkan kartu kesehatan yang dimiliki, lalu pihak rumah sakit akan mencocokkan data yang ada.

Jika kehilangan kartu kesehatan ini, mahasiswa bisa memintanya kembali ke Kemahasiswaan Tel-U dengan biaya sekitar Rp25.000,00. “Kalau tidak salah 25 ribu, tetapi tidak tahu apakah ditanggung ke mahasiswa atau ke Tel-U. Itu nanti bisa di negosiasi,” ujar Nurhayati. Selama itu juga mahasiswa masih bisa dilayani dengan menggunakan KTM.

Sosialisasi mengenai kartu kesehatan ini belum dilakukan, karena masih ada perubahan dari amandemen mengenai rumah sakit dan penyakit yang bisa ditangani oleh kartu ini. “(Pembagian Kartu Kesehatan) Karena baru di bulan Februari sekarang kan, kita evaluasi lagi, kita minta tambah rumah sakit lagi, kita minta tambah layanan yang lain. Jadi mau disosialisasikan kalau dari Telkom Medikanya sudah siap, karena mereka harus hire dari dokternya kan, maksudnya takut nanti ada pertanyaan yang dia tidak bisa jawab dan ternyata tidak sesuai dengan MOU-nya, jadi jangan dulu sosialisasi,” jelas Nurhayati lagi.

Banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa pembagian kartu kesehatan ini belum sepenuhnya merata. Hal ini karena mahasiswa dari beberapa jurusan belum mendapatkan kartu ini, bahkan tidak ada pemberitahuan pasti mengenai pengambilan kartu ini. Padahal, mahasiswa sangat memerlukan kartu kesehatan ini, terutama bagi mereka yang masih tinggal di asrama karena jarak menuju poliklinik lebih dekat. “Kalau memang Telkom menyediakan kartu ini seharusnya penyebarannya disamaratakan.” ujar Chelsy Novelia, salah satu mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual 2018.

Hal serupa juga disampaikan oleh Muhammad Buushiri, mahasiswa Teknik Telekomunikasi 2018 yang sudah mendapatkan kartu kesehatan. Menurutnya penyebaran kartu kesehatan ini belum merata. Selain itu juga belum ada kejelasan mengenai fungsi-fungsi dari kartu ini. “Sejujurnya aku sendiri belum tahu fungsi dari kartu ini selain untuk kesehatan,” ujarnya.

Ke depannya, Imanda Hafizh, mahasiswa Teknik Telekomunikasi 2018 menyarankan sebaiknya ada keringanan yang diberikan ketika mahasiswa berobat di rumah sakit. “Saran dari aku sih, kalau kita tercatat sebagai mahasiswa Tel-U, ketika kita berobat ke rumah sakit punya BUMN, dikasih potongan harga gitu.”

Penulis : Nur Azizah Arini Putri

Editor : Annisa Nisrina

 

Related Articles

Back to top button