Telkom University Berduka, Mahasiswa S1 Teknik Elektro Meninggal Tragis

1
2985

AksaraNews, Bandung (12/3/18) – Pada minggu (11/3) publik Telkom University dikejutkan dengan berita duka yang menimpa seorang mahasiswa yaitu Alexander Ramos Favour Sihombing, mahasiswa jurusan Teknik Elektro angkatan 2014. Pria asal Tambun (Bekasi) yang biasa dipanggil Alex ini ditemukan terkapar dalam keadaan terluka parah, di depan gerbang pos belakang kampus yang menghubungkan Telkom University dengan Jalan Radio Palasari. Alex ditemukan oleh seorang satpam, yakni Kusdinar, yang sedang berpatroli pada sekitaran pukul 00.30. Alex mendapat tusukan di dada bagian kiri. Nyawanya tak sempat diselamatkan, Alex meninggal saat dalam perjalanan menuju RS Sartika Asih.

Siang ini, tim Aksara melakukan wawancara kepada Topik Rizal, salah satu satpam yang berjaga di pos dekat lokasi kejadian. Topik Rizal menceritakan kronologi kejadian yang terjadi pada minggu malam kemarin.

“Korban ditemukan pada pukul 00.30, pada saat itu ada seorang satpam yang sedang berpatroli di kawasan parkiran T-Mart, ketika berjalan ke arah gerbang belakang, ia melihat korban telah terkapar tidak berdaya dalam keadaan tubuh yang sudah berdarah. Setelah korban ditemukan, Kusdinar (satpam yang menemukan korban) lalu menelepon pihak-pihak yang terkait, kepolisian dan orang-orang kampus Telkom University. Pihak kepolisian tiba di lokasi dua jam kemudian, yaitu sekitar pukul 02.00. Selama menunggu kedatangan pihak kepolisian, korban tidak diapa-apakan maupun disentuh,” ungkap Topik Rizal.

Topik juga menambahkan bahwa dari penjelasan tim medis, Alex sudah sangat sulit diselamatkan karena kehilangan banyak darah dan luka di dada kirinya sudah dalam sampai merobek jantungnya.

Kejadian nahas ini belum diketahui penyebab utamanya. Pihak kepolisian, baik dari Polsek Dayeuhkolot hingga Polda Jawa Barat masih melakukan penyelidikan. Namun disayangkan bahwa kejadian ini tidak lepas dari sistem keamanan yang kurang di daerah tersebut. Faktanya bahwa di daerah tersebut masih sangat minim penerangan dan juga keadaan CCTV sebagai alat pemantau tidak berfungsi.

“Sistem keamanan di Telkom University ini saya rasa masih sangat kurang. Jauh sebelum kejadian ini terjadi, kami para satpam telah mengajukan pada pihak kampus untuk memberikan penerangan yang cukup, karena di daerah ini memang diketahui sangat gelap di malam hari akibat lampu yang tidak terpasang di sana, juga mengenai jumlah satpam yang minim. Namun, sampai sekarang pihak kampus tidak memenuhi permintaan tersebut. CCTV yang terpasang mengarah ke arah gerbang pun begitu diperiksa untuk mengetahui kejadian yang terjadi, ternyata mati.  Saya rasa sistem keamanan di Telkom University ini harus lebih ditingkatkan lagi,” jelas Topik Rizal.

Begitu ditanya mengenai keadaan penerangan dan CCTV, Aris Hartaman selaku Kabag Pengendalian Aset mengatakan bahwa, “Untuk penerangan diketahui memang di daerah tersebut minim penerangan. Kalau di lokasi kejadian ditemukannya korban, itu sudah di luar gerbang, jadi di luar kawasan Telkom University, sehingga penerangan di sana bukan tanggung jawab pihak kampus. Namun kedepannya sudah direncanakan untuk dipasang penerangan di daerah dekat gerbang belakang. Mengenai CCTV, tidak disadari bahwa CCTV itu mati. Baru ketika diperiksa, ternyata rekamannya tidak ada, entah karena CCTV mati atau sistemnya yang salah. Namun kejadian yang terjadi minggu kemarin ini menjadi bahan pelajaran yang sangat berarti.”

Meninggalnya Alexander menjadi suatu pukulan yang sangat menyakitkan bagi para mahasiswa Telkom University, khususnya mahasiswa S1 Teknik Elektro. Banyak kawan dan kerabatnya yang menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Alex. Seperti Muh. Afif, mahasiswa S1 Teknik Elektro angkatan 2014, yang merupakan teman satu lab dengan Alex.

“Wilayah Jl. Radio Palasari memang merupakan daerah yang sangat rawan kejahatan. Malam itu, Alex pulang menuju kostannya di Sukabirus melewati jalan tersebut. Ia dari Hotel Horizon, habis menemui saudaranya. Alex itu orangnya baik, mau bekerja sama, dan rasa tanggung jawabnya besar. Saya merasa kehilangan banget. Kenapa orang kayak dia itu meninggalnya harus secepat itu, padahal masih banyak yang ngebutuhin dia,” ungkap Afif.

Penulis : Hartika Imanniar
Editor   : Milati Hanifah