Topografi Wilayah, Faktor Lain Penyebab Banjir di Bandung

0
135

AksaraNews, Bandung (12/4/2019) – Pada Kamis (4/4), beberapa wilayah di Kabupaten Bandung seperti daerah kecamatan Dayeuhkolot dan Baleendah masih terendam banjir. Ketinggian banjir bahkan mencapai perut hingga leher orang dewasa. Daerah tersebut meliputi RW 08 Bolerong, RW 03 Kampung Cilisung, RW 13 Kampung Cilisung, RW 04 Kampung Bojongasih, RW 14 Kampung Bojongasih, RW 13 Kampung Ciputat, dan Kelurahan Andir. Menurut keterangan salah satu warga, banjir di daerah Kampung Cilisung sudah mulai surut sekitar 70 cm sejak Selasa malam (9/4).

Banjir ini menyebabkan banyak rumah warga terendam, begitu juga dengan sekolah dan puskesmas yang terpaksa ditutup karena akses jalan masih tergenang air. Warga yang rumahnya terendam banjir sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman, walaupun sebagian dari mereka lebih memilih untuk berdiam diri di lantai atas rumah masing-masing. Tempat pengungsian yang digunakan warga hanya sebatas masjid atau pom bensin terdekat.

Ketika banjir berlangsung, telah terjadi pemadaman listrik selama dua hari, terhitung dari Senin (8/4) hingga Selasa (9/4), dan listrik baru saja dinyalakan pada Rabu (10/4). Mati listrik ini juga berdampak pada matinya aliran air sehingga warga sempat kesusahan untuk mencari air bersih. Akses jalan yang masih tergenang banjir mempersulit aktivitas warga. “Karena untuk pergi ke depan (jalan raya) saja harus menggunakan perahu dan harus bayar,” jelas Abo, salah satu warga yang kediamannya turut terendam banjir. Untuk saat ini, satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan hanya perahu. Kepala desa setempat menyediakan satu hingga dua perahu untuk setiap RW. Sedangkan, beberapa warga sudah menyediakan perahu pribadi.

Menurut keterangan Abo, banjir yang semula hanya terjadi sekali atau dua kali dalam setahun, kini telah menjadi rutinitas tiap kali terjadi hujan di Bandung. Baik di pusat kota, di daerah Gedebage, atau daerah lain di Kabupaten dan Kota Bandung. Hal tersebut dikarenakan meluapnya sungai Citarum akibat kiriman air yang berasal dari daerah utara Bandung, seperti Lembang, Rancaekek, Majalaya, dan Pangalengan. Curah hujan yang tinggi menambah debit air yang masuk juga semakin tinggi.

Pada Sabtu (6/4), Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, telah mendatangi lokasi-lokasi banjir dan mengontrol situasi. Pemerintah sendiri sudah mulai memberikan bantuan. Namun, penyebarannya masih belum merata. “Belum ada bantuan, karena akses jalan yang susah untuk ditembus,” ujar Jajang selaku Pengurus RW 10. Bantuan juga didapat dari warga sekitar dan beberapa relawan yang ikut membantu warga.  “Untuk bantuan dari pemerintah kayaknya belum deh, tapi kalau dari relawan banyak. Relawan dari Rumah Yatim dan perorangan,” tambah Abo.

Potensi Bandung akan banjir

Pada dasarnya, Kota dan Kabupaten Bandung merupakan daerah yang dilalui oleh DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum. Banjir yang terjadi di Bandung juga diakibatkan oleh kerusakan ekosistem yang terjadi di DAS Citarum. Kondisi daerah aliran sungai di hulu yang rusak, penggundulan hutan, cara bercocok tanam yang salah, dan perkerasan (pembangunan fisik), sehingga sistem pengaliran air Citarum dari hulu ke hilir menjadi bermasalah. Hal tersebut menyebabkan air yang mengalir dari daerah hulu, mengalir dengan debit yang sangat besar sehingga tidak tertampung di daerah hilir dan menyebabkan air tersebut meluap ke pemukiman warga.

“Selain akibat kerusakan ekosistem di DAS Citarum, banjir di Bandung juga diakibatkan oleh penurunan permukaan tanah. Di sepanjang sungai Citarum telah terjadi penurunan akibat eksploitasi air tanah secara berlebihan dan penurunan tanah tersebut juga disebabkan oleh faktor penyusun keragaman tanah itu sendiri,” hasil rangkum Ganeca di gesi.co.id pada tahun 2017.

Seperti yang terjadi di Daeyeuhkolot dan Rancaekek, kedua daerah tersebut mengalami penurunan permukaan tanah yang relatif besar. Dayeuhkolot penurunan tanah terjadi sebesar 46 cm, sedangkan penurunan tanah yang terjadi di Rancaekek adalah sebesar 42 cm. Penurunan permukaan tanah ini mengakibatkan penurunan topografi (menjadi dataran rendah) daerah tersebut dan memperbesar potensi terjadinya genangan atau banjir di Bandung.

Solusi dari banjir yang tidak kunjung berhenti ini masih terus dipertanyakan.  Pemerintah berencana untuk melakukan pembangunan danau retensi di tujuh titik, di antaranya danau retensi di Gede Bage dan Cieunteung yang sedang dalam proses pembangunan. Danau retensi dibutuhkan sebagai tempat menampung air agar air yang datang tidak langsung turun dan menyebabkan debit air meluap. Selain itu, sedang berlangsung juga proses konstruksi terowongan air di Curug Jompong. Ketiga alternatif pembangunan tersebut diharapkan akan selesai pada akhir tahun 2019, seperti yang dilansir pada Jabar.tribunnews.com. Hal ini menjadi solusi dari pemerintahan itu sendiri untuk meminimalisasi banjir yang datang terus-menerus.

 

Penulis: Ardiansah dan Nur Azizah Arini Putri

Editor: Dewa Made Surya