Tolak Pengesahan RUU, Demonstrasi Mahasiswa Bandung Berakhir Ricuh

0
104

AksaraNews, Bandung (25/09/2019) – Hari Senin (23/09), mahasiswa dari 25 universitas melakukan demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat. Sehari berselang (24/09), elemen masyarakat berserta mahasiswa melakukan aksi di tempat yang sama. Kedua aksi tersebut menuntut DPRD Provinsi Jawa Barat melakukan penolakan terhadap RUU KPK, RUU KUHP, RUU PAS, dan RUU Pertanahan. Namun, pada demonstrasi hari kedua, terdapat tambahan tuntutan untuk mendesak wakil rakyat segera mengesahkan RUU PKS.

Massa meminta  perwakilan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat untuk turun dan menemui demonstran. Pukul 16.55 WIB, salah satu anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hasbullah Rahmad, menemui massa dan meminta audiensi dilakukan di dalam gedung oleh perwakilan mahasiswa. Namun, massa menolak dan meminta audiensi dilakukan di depan demonstran secara terbuka. Negosisasi tersebut tidak mencapai kesepakatan apapun. 

Tindakan represif pihak kepolisian terhadap mahasiswa memicu terjadinya kericuhan. Kericuhan menyebabkan pihak kepolisian menembakkan water cannon dan gas air mata kepada massa. Kericuhan hari pertama berlangsung hingga pukul 19.11 WIB, massa membubarkan diri dan mengevakuasi korban kericuhan ke UNISBA (Universitas Islam Bandung). Salah satu pers mahasiswa dari Piksi Ganesha, Rian Hamdani, turut menjadi korban pelemparan batu hingga tak sadarkan diri saat meliput demonstrasi. 

Pada demonstrasi hari kedua (24/09), Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat kembali menjadi pusat aksi demonstrasi yang dihadiri oleh beberapa lapisan masyarakat. Demonstrasi kembali berakhir ricuh. Kericuhan diduga disebabkan provokasi oleh beberapa oknum. “Awalnya memang tidak ingin rusuh, tetapi ada oknum yang melempar botol. Saat itulah kondisi mulai tak terkendali,” pengakuan salah satu massa aksi yang tidak ingin disebutkan namanya. Ia juga mengaku aparat kepolisian kembali melakukan kekerasan kepada demonstran. Sekitar pukul 17.00 WIB, pihak kepolisian memukul mundur masa hingga demonstran terbelah.

Menjelang malam, kericuhan antar demonstran dan aparatur keamanan semakin memanas. Namun, sekitar pukul 20.30 WIB, tiga orang anggota DPRD Jawa barat menemui massa serta menandatangani MoU (Memmorandum of Understanding) berisikan tuntutan:

  1. Menolak disahkan RUU KPK.
  2. Menolak RUU KUHP.
  3. Menolak RUU Pertanahan.
  4. Menolak RUU Ketenagakerjaan.
  5. Dan RUU lain yang tidak berpihak kepada rakyat.
  6. Mempercepat pengesahan RUU PKS.

Demonstran menyatakan akan melakukan aksi serupa dengan massa yang lebih besar apabila tidak ada respon pemerintah dua hari setelah MoU ditandatangani. Dua hari demonstrasi dilakukan, menyebabkan puluhan hingga ratusan peserta demonstran mengalami luka-luka hingga ditangkap oleh pihak kepolisian. Demonstrasi pada Senin (23/09) terdapat kurang lebih 94 korban luka-luka, sementara demonstrasi pada Selasa (24/09) terdapat 48 orang massa aksi ditangkap oleh pihak kepolisian. 

Penulis: M. Arief Syahnakri A.

Editor: Falaah Saputra