Headline

Tuntutan Kritis Mahasiswa Desak Stabilitas Harga Pangan

AksaraNews, Bandung (23/03/2024) — Menindaklanjuti keresahan masyarakat perihal kenaikan harga pangan yang tertimbun sejak Februari lalu, ratusan mahasiswa berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung pada Jumat(22/3). Aksi yang diprakarsai oleh BEM tiap-tiap universitas se-Jawa Barat itu bertitik awal di Taman Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA), melakukan long march sepanjang Jalan Japati  lalu berakhir di depan Kantor Gubernur Jawa Barat (Gedung Sate).

Selama kurang lebih selama satu jam empat puluh lima menit, perwakilan atau juru bicara dari masing-masing universitas berorasi mengenai tuntutan stabilisasi harga pangan, tolak politisasi bansos, industrialisasi nasional hingga desakan reforma agraria kepada pemerintah. Mereka juga menyinggung soal independensi KPK dan dwifungsi ABRI.

Dengan tagline #adilijokowi, para mahasiswa mendesak presiden untuk segera mengatasi keresahan masyarakat akibat isu-isu tersebut. Menurut Camai, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati, presiden adalah pemegang otoritas tertinggi yang mampu mengendalikan segala kericuhan dan gejolak sosial, politik dan ekonomi. Selain hal itu, Camai juga mempermasalahkan kurangnya kelancaran sistem demokrasi dengan menyoroti penunjukan Tito Karnavian (Menteri Dalam Negeri) oleh Jokowi, yang kemudian mengangkat beberapa pejabat gubernur pelaksana tanpa memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat.

“Terus juga setelah pernyataan terkait kelangkaan pupuk (sebagai akibat dari kenaikan harga pangan) yang cukup logis, kenapa Jokowi malah memberi statement lain yang menyatakan bahwa badai El Nino-lah penyebabnya? Kenapa tidak melakukan manuver politik yang menguntungkan masyarakat saja seperti pendirian koperasi pemberdayaan petani?” jawabnya saat ditanya mengenai peran presiden terhadap instabilitas harga pangan.

Camai menjelaskan bahwa adalah kesalahan besar jika orang menganggap petani sebagai pihak yang diuntungkan saat harga beras naik. Ini karena ketika harga gabah, yang hanya setengah dari harga beras, naik, maka permintaan akan pupuk juga akan meningkat secara otomatis.Yang jadi masalah adalah ketidakcakapan pemerintah dalam menyingkirkan oknum-oknum yang memanfaatkan situasi kenaikan harga gabah tersebut. Inilah yang diminta para mahasiswa dalam aksi kolektif kali ini: reforma agraria dimana petani bisa berdikari.

Dari Telkom University sendiri, terhitung sekitar 70 mahasiswa yang mengikuti aksi ini. Muhammad Rafid selaku Gubernur BEM KEMA FKB menyatakan bahwa aksi ini akan terus berkelanjutan sebagaimana yang dicanangkan dan dieskalasikan oleh para mahasiswa Bandung, “setelah kemarin di Jakarta dengan Seruan Jakarta Lautan Api, sekarang di Bandung dengan nama Bandung Lautan Api. Eskalasi kegiatan ini nantinya akan berskala nasional. Kenapa kita berbicara stabilitas (pada saat ini)? Ya, karena momentumnya bertepatan dengan bulan puasa, dimana di bulan ini kebutuhan akan beras melonjak tinggi.”

Permasalahan kenaikan harga pangan menjadi polemik yang fundamental di kalangan mahasiswa dikarenakan pendapatan masyarakat yang tidak setara dengan naiknya harga beras. 

“Jadi, kita berharap pemerintah mau mendengar suara kita. Minimal pada poin penstabilan harga beras yang menyulitkan keluarga berpendapatan rendah,” pungkas Rafid.

 

Penulis: Syifa Uswatun Khasanah & Assany Habiballah

Editor: Nur Nazlizah Purwanti 

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button